Cerita.co.id melaporkan, raksasa otomotif Jerman, BMW, tengah menghadapi tantangan serius dengan pengumuman penarikan kembali (recall) global yang melibatkan sekitar 575.000 unit kendaraannya. Langkah masif ini diambil menyusul adanya potensi risiko kebakaran yang berasal dari sistem starter. Kampanye recall ini bersifat spesifik berdasarkan Nomor Identifikasi Kendaraan (VIN), menegaskan bahwa tidak semua unit dari model yang disebutkan otomatis terdampak.
Meskipun isu ini mungkin tak sepopuler masalah baterai atau sistem bahan bakar, dampak teknisnya berpotensi fatal. Berdasarkan informasi yang dihimpun Cerita.co.id dari sumber internal, akar masalahnya terletak pada potensi cacat produksi di komponen magnetic switch dalam motor starter. Pada kondisi operasional tertentu, khususnya kendaraan dengan intensitas start mesin yang tinggi, komponen ini rentan mengalami keausan dini.
Gejala awal yang mungkin dirasakan pemilik adalah kesulitan menghidupkan mesin atau bahkan kegagalan start. Namun, skenario terburuk jauh lebih mengkhawatirkan: abrasi partikel logam di dalam magnetic switch dapat memicu korsleting listrik. Hubungan arus pendek ini berpotensi menghasilkan panas berlebih yang terlokalisasi di area starter, dan dalam situasi ekstrem, bisa berkembang menjadi ancaman kebakaran, bahkan saat kendaraan sedang beroperasi. Komponen starter yang bermasalah ini diperkirakan diproduksi antara Juli 2020 hingga Juli 2022.

Related Post
Daftar model yang terdampak recall ini cukup ekstensif, mencakup jajaran populer BMW seperti 2 Series Coupé (G42), 3 Series (G20/G21/G28), 4 Series (G22/G23/G26), 5 Series (G30/G31), 6 Series Gran Turismo (G32), 7 Series (G11/G12), X3 (G01), X4 (G02), X5 (G05), X6 (G06), hingga roadster Z4 (G29). Implikasi menarik dari daftar ini adalah potensi keterlibatan Toyota Supra generasi terbaru, mengingat mobil sport Jepang tersebut berbagi platform teknis dengan BMW Z4.
Untuk mengatasi masalah ini, BMW akan melakukan penggantian unit starter pada kendaraan yang teridentifikasi bermasalah. Apabila ditemukan indikasi kerusakan baterai akibat panas berlebih, penggantian baterai juga akan dilakukan. Estimasi waktu pengerjaan di bengkel resmi adalah sekitar dua jam. Sebagai langkah pencegahan sementara, BMW mengimbau pemilik kendaraan yang terdampak untuk tidak meninggalkan mobil dalam kondisi menyala tanpa pengawasan, terutama setelah menggunakan fitur remote start, guna meminimalkan potensi risiko overheat.
Sebelumnya, kampanye recall serupa juga telah diluncurkan oleh BMW di Amerika Serikat untuk puluhan ribu unit, meskipun belum ada konfirmasi resmi mengenai identitas penuh kedua program tersebut. Insiden ini menjadi pengingat penting bahwa bahkan komponen sekecil magnetic switch pada starter pun dapat memiliki implikasi keselamatan yang sangat signifikan. Dalam lanskap otomotif modern yang semakin canggih, satu kegagalan kecil pada sistem kelistrikan dapat bereskalasi menjadi ancaman serius jika tidak ditangani dengan sigap.
Bagi pemilik BMW, langkah paling bijak adalah segera memeriksa Nomor Identifikasi Kendaraan (VIN) melalui kanal resmi di negara masing-masing dan menjadwalkan kunjungan ke dealer jika unit mereka teridentifikasi terdampak. Di Indonesia, pemilik dapat melakukan pengecekan VIN melalui laman resmi Technical Update BMW Indonesia. Recall ini bukan sekadar prosedur administratif, melainkan manifestasi komitmen pabrikan terhadap keselamatan konsumen. Sejalan dengan itu, BMW Indonesia juga mengusung kampanye "Relax. We Care.", menegaskan pendekatan proaktif mereka dalam menjamin kenyamanan dan keselamatan pelanggan setianya di Tanah Air.









Tinggalkan komentar