Rupiah Tersungkur Ini Penyebabnya

Dana Sulistiyo

Rupiah Tersungkur Ini Penyebabnya

Cerita.co.id melaporkan, nilai tukar rupiah kembali menunjukkan pelemahan signifikan di akhir perdagangan Kamis, 19 Februari 2026. Mata uang Garuda ini ditutup merosot 10 poin, atau setara 0,06 persen, mencapai level Rp16.894 per dolar Amerika Serikat.

Menurut analisis Ibrahim Assuaibi, seorang pengamat pasar uang yang dihubungi Cerita.co.id, tekanan terhadap rupiah sebagian besar bersumber dari sentimen eksternal. Investor global masih sangat mewaspadai ketegangan di Timur Tengah. Pernyataan Wakil Presiden AS JD Vance pada Rabu lalu, yang menyebut Iran gagal memenuhi tuntutan utama Amerika Serikat dalam negosiasi, menjadi sorotan. Meskipun Washington memberikan waktu dua minggu kepada Teheran untuk mengatasi perbedaan, potensi penggunaan kekuatan oleh Presiden AS Donald Trump jika diplomasi gagal menghentikan program nuklir Iran, semakin memperkeruh suasana. Laporan peningkatan aktivitas militer di Teluk juga memperkuat kekhawatiran pasar akan pasokan energi global.

Rupiah Tersungkur Ini Penyebabnya
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Selain itu, minimnya progres dalam upaya perdamaian antara Rusia dan Ukraina turut memperparah risiko keamanan global. Harapan akan pelonggaran sanksi terhadap ekspor energi Rusia yang sebelumnya sempat muncul, kini mulai memudar, menambah ketidakpastian di pasar komoditas.

COLLABMEDIANET

Dari sisi kebijakan moneter global, risalah pertemuan Federal Reserve (The Fed) terbaru mengungkapkan adanya perbedaan pandangan di antara para pejabatnya. Meskipun sebagian besar setuju bahwa risiko inflasi masih cenderung tinggi, terdapat perdebatan mengenai seberapa agresif kebijakan pengetatan harus diterapkan dan berapa lama suku bunga acuan perlu dipertahankan pada level tinggi.

Kondisi ini membuat pelaku pasar merevisi turun ekspektasi mereka terhadap potensi penurunan suku bunga The Fed tahun ini. Meskipun demikian, kontrak berjangka dana The Fed masih mengindikasikan kemungkinan penurunan suku bunga pada bulan Juni. Kini, perhatian investor tertuju pada rilis data Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) Amerika Serikat yang dijadwalkan pada Jumat. Data PCE ini, yang merupakan indikator inflasi favorit The Fed, diharapkan dapat memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter bank sentral AS di masa mendatang.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar