Cerita.co.id melaporkan, mata uang Garuda menunjukkan performa gemilang sepanjang pekan ini, berhasil membukukan penguatan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat. Berdasarkan pantauan pasar spot Bloomberg pada Jumat, 21 Agustus 2026, nilai tukar rupiah melonjak 0,75 persen secara mingguan. Dari posisi awal pekan di level Rp17.827, rupiah sukses menembus Rp17.694 per dolar AS, bahkan menguat 0,3 persen dalam perdagangan harian.
Tren positif ini juga tercermin pada kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia. Rupiah Jisdor mencatatkan penguatan 0,73 persen dalam sepekan, bergerak dari Rp17.836 menjadi Rp17.705 per dolar AS. Secara harian, kurs Jisdor juga menguat sebesar 0,42 persen, menegaskan dominasi rupiah di tengah gejolak pasar global.
Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa pendorong utama di balik kinerja impresif rupiah adalah kebijakan proaktif Departemen Keuangan AS. Washington diketahui telah melipatgandakan program pembelian kembali (buyback) surat utang pemerintah atau US Treasury berjangka panjang. Langkah ini bertujuan untuk menekan imbal hasil (yield) obligasi tenor panjang, dengan target buyback setidaknya 4 miliar dolar AS per operasi pada kuartal mendatang.

Related Post
"Pemerintah AS berpotensi meningkatkan pembelian ini lebih lanjut, meyakini bahwa tingkat imbal hasil saat ini tidak sepenuhnya mencerminkan fundamental ekonomi yang sebenarnya," jelas Ibrahim pada Sabtu, 22 Agustus 2026.
Di sisi lain, data pasar tenaga kerja AS juga turut menjadi perhatian. Penurunan klaim tunjangan pengangguran mingguan mengindikasikan stabilitas relatif, meskipun sempat terjadi perlambatan penyerapan tenaga kerja pada Juli. Kondisi ini membuat Bank Sentral AS (The Fed) tetap waspada terhadap stabilitas inflasi, di tengah spekulasi pasar mengenai arah kebijakan suku bunga acuan ke depan.









Tinggalkan komentar