Rupiah Merana Dihantam Badai Global

Dana Sulistiyo

Rupiah Merana Dihantam Badai Global

Cerita.co.id melaporkan bahwa nilai tukar rupiah harus mengakui keperkasaan dolar Amerika Serikat pada penutupan perdagangan Selasa, 6 Januari 2026. Mata uang Garuda ditutup melemah signifikan, mengakhiri hari di level Rp16.758 per dolar AS. Pelemahan ini mencatatkan penurunan 18 poin atau sekitar 0,11 persen, menambah daftar tekanan yang dihadapi rupiah di awal tahun.

Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menyoroti bahwa gejolak eksternal menjadi pemicu utama kemerosotan rupiah kali ini. Fokus perhatian tertuju pada dinamika politik di Venezuela. Wakil Presiden Delcy Rodriguez secara mengejutkan dilantik sebagai presiden sementara pada hari Senin, sebuah langkah yang menimbulkan spekulasi. Meskipun ia menyatakan dukungan terhadap Presiden Maduro, belum ada kejelasan mengenai sikapnya terhadap intervensi Amerika Serikat. Laporan intelijen AS pada hari yang sama bahkan menyebut Rodriguez sebagai sosok yang paling tepat untuk memimpin pemerintahan transisi.

Rupiah Merana Dihantam Badai Global
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Situasi semakin memanas setelah Presiden Maduro sendiri mendeklarasikan diri tidak bersalah atas tuduhan distribusi narkotika dari AS. Kemunculannya di pengadilan New York, beberapa hari pasca penangkapannya di Caracas oleh pasukan AS, mengguncang pasar global. Presiden AS Donald Trump, yang mengklaim penangkapan tersebut dilakukan tanpa persetujuan Kongres, mengisyaratkan bahwa AS akan mengambil alih kendali sementara Venezuela. Trump juga membuka peluang bagi perusahaan minyak besar Amerika untuk berinvestasi di negara kaya minyak tersebut, menambah kompleksitas geopolitik yang berdampak pada sentimen pasar keuangan global.

COLLABMEDIANET

Di sisi lain, data ekonomi dari Amerika Serikat juga turut memberikan gambaran yang kurang menggembirakan. Indeks PMI Manufaktur ISM AS untuk bulan Desember 2025 tercatat turun menjadi 47,9. Angka ini meleset dari perkiraan 48,3 dan lebih rendah dibandingkan 48,2 pada bulan November sebelumnya. Kondisi ini mengindikasikan bahwa sektor manufaktur AS masih menghadapi prospek yang suram, menambah kekhawatiran investor dan memberikan tekanan lebih lanjut pada mata uang di pasar negara berkembang, termasuk rupiah.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar