Rupiah Menguat di Tengah Ketegangan Global

Rupiah Menguat di Tengah Ketegangan Global

Cerita.co.id – Mata uang rupiah menunjukkan performa positif pada penutupan perdagangan Rabu (23/9/2026). Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berhasil menguat sebesar 66 poin atau setara dengan kenaikan 0,37 persen. Pada akhir sesi perdagangan tersebut, rupiah tercatat bertengger di level Rp17.818 per dolar AS.

Penguatan ini terjadi di tengah dinamika geopolitik dunia yang sedang mengalami fluktuasi tajam. Meskipun situasi global tampak tidak menentu, rupiah mampu bertahan dan menunjukkan daya tahan yang cukup baik di pasar valuta asing.

Rupiah Menguat di Tengah Ketegangan Global
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa terdapat beberapa faktor eksternal yang memengaruhi pergerakan mata uang domestik. Salah satu sentimen utama yang diperhatikan pelaku pasar adalah adanya harapan akan adanya terobosan diplomasi terkait konflik yang melibatkan Iran. Harapan ini muncul seiring dengan momentum pertemuan penting di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang berlangsung minggu ini.

COLLABMEDIANET

"Ada harapan bahwa upaya diplomasi terkait konflik Iran akan mendapatkan peluang baru minggu ini, bertepatan dengan agenda pertemuan PBB," tulis Ibrahim dalam laporan riset terbarunya.

Namun, Ibrahim juga memberikan catatan bahwa situasi di Timur Tengah masih sangat rapuh. Meskipun Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, telah menyatakan kesediaannya untuk bertemu dengan Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, yang dijadwalkan hadir di New York untuk Sidang Umum PBB, ketegangan tetap terasa. Hubungan antara Iran dan AS masih diwarnai dengan aksi saling lempar ancaman di tengah kebuntuan situasi politik yang ada.

Di sisi lain, upaya perdamaian mulai menunjukkan secercah tanda melalui langkah Iran. Kepala keamanan Iran, Mohsen Rezaei, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menyampaikan sejumlah syarat kepada pihak penengah agar perundingan untuk mengakhiri konflik dengan AS dapat kembali digelar.

Kendati demikian, stabilitas kawasan Timur Tengah masih dibayangi oleh ancaman keamanan yang nyata. Kelompok Houthi di Yaman yang didukung oleh Iran dilaporkan telah meluncurkan serangan menggunakan rudal dan pesawat nirawak (drone) ke beberapa lokasi sensitif di Riyadh, ibu kota Arab Saudi. Tak hanya itu, fasilitas milik Aramco di kota Yanbu yang terletak di tepi Laut Merah juga menjadi sasaran serangan.

Serangan terhadap jalur pipa Timur-Barat milik Saudi Aramco ini berdampak langsung pada logistik energi global. Akibat gangguan di Yanbu, perusahaan energi raksasa tersebut terpaksa mengalihkan fokus ekspor melalui Selat Hormuz untuk menjaga stabilitas pasokan minyak dunia pada bulan ini dan bulan depan.

Sementara itu, dari sisi kebijakan moneter, pelaku pasar kini tengah menanti pidato sejumlah pejabat Federal Reserve (The Fed). Meski agenda ekonomi Amerika Serikat minggu ini tidak terlalu padat, pernyataan dari para pejabat bank sentral tersebut sangat dinantikan. Pasar berusaha mencari petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga AS, terutama terkait kemungkinan adanya kenaikan suku bunga lanjutan pada bulan Oktober mendatang.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar