Cerita.co.id melaporkan bahwa nilai tukar Rupiah menunjukkan pelemahan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat pada penutupan perdagangan hari ini. Mata uang Garuda tercatat merosot 28 poin, atau sekitar 0,17 persen, mencapai level Rp16.787 per dolar AS. Pelemahan ini mengindikasikan adanya tekanan dari berbagai faktor, baik dari arena geopolitik global maupun dinamika ekonomi di Amerika Serikat yang turut mempengaruhi sentimen pasar.
Menurut pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, sentimen eksternal menjadi pemicu utama fluktuasi Rupiah minggu ini. Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran menjadi sorotan utama. Washington telah meningkatkan pengerahan kapal militernya ke kawasan Timur Tengah, disertai ancaman tindakan militer jika Teheran tidak menyepakati perjanjian nuklir. Meskipun pembicaraan mengenai ambisi nuklir Iran berakhir tanpa kesepakatan yang jelas pada Kamis lalu, kedua belah pihak mengisyaratkan kesediaan untuk melanjutkan negosiasi, termasuk diskusi teknis yang dijadwalkan di Wina minggu depan, seperti yang diungkapkan oleh mediator Oman.
Selain itu, ketidakpastian yang menyelimuti perekonomian AS turut memperkeruh suasana pasar. Hal ini terutama setelah Mahkamah Agung AS membatalkan sebagian besar tarif perdagangan yang sebelumnya diberlakukan oleh Presiden Donald Trump. Namun, Trump dengan cepat merespons dengan mengumumkan tarif baru di bawah kerangka hukum yang berbeda, bahkan mengancam akan memberlakukan lebih banyak bea masuk. Situasi ini membuat pasar tetap waspada terhadap potensi gangguan ekonomi lebih lanjut yang bisa timbul dari kebijakan perdagangan AS.

Related Post
Pasar juga tengah mencermati ulang arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed). Para pembuat kebijakan masih menunjukkan kekhawatiran terhadap tingkat inflasi yang tinggi, sehingga secara luas, pasar memperkirakan bank sentral akan mempertahankan suku bunga tidak berubah pada pertemuan bulan Maret dan April. Sementara itu, ekspektasi penurunan suku bunga pada bulan Juni, yang sebelumnya dianggap paling mungkin, kini terlihat semakin tidak pasti. Berdasarkan data dari CME FedWatch Tool, pasar kini lebih cenderung melihat pertemuan di bulan Juli sebagai waktu yang lebih realistis untuk penurunan suku bunga berikutnya, dengan probabilitas sekitar 66 persen.
Dari sisi domestik AS, Departemen Perdagangan (DOC) pada hari Selasa mengumumkan pengenaan bea masuk imbalan terhadap sel dan panel surya yang diimpor dari perusahaan-perusahaan di India, Indonesia, dan Laos. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap dugaan subsidi yang diberikan oleh pemerintah ketiga negara tersebut kepada industri terkait. Kebijakan ini berpotensi memberikan dampak signifikan terhadap ekspor produk surya dari negara-negara tersebut ke pasar Amerika Serikat.








Tinggalkan komentar