Berita mengejutkan datang dari Cerita.co.id terkait pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS. Hari ini, Rupiah anjlok hingga 147 poin (sekitar 0,90%), menutup perdagangan di angka Rp16.499 per dolar AS. Pelemahan ini, menurut pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi, didorong oleh beberapa faktor eksternal dan internal yang saling berkaitan.
Dari sisi eksternal, data ekonomi AS yang positif menjadi pemicu utama. Pertumbuhan ekonomi AS di kuartal kedua tahun 2025 melampaui proyeksi, mencapai 3,3 persen. Angka ini lebih tinggi dari prediksi awal 3,1 persen dan angka sebelumnya 3,0 persen. Kinerja pasar tenaga kerja AS yang kuat, ditandai dengan penurunan jumlah klaim pengangguran, semakin memperkuat dolar AS. Situasi politik global juga turut berperan. Kegagalan upaya perdamaian di Ukraina, di tengah meningkatnya ketegangan antara AS dan Rusia, serta dampak dari sanksi AS terhadap impor minyak Rusia oleh India, turut menekan Rupiah. Perselisihan internal di pemerintahan AS, khususnya terkait gugatan terhadap Gubernur The Fed, Lisa Cook, juga menambah ketidakpastian pasar. Bahkan, Gubernur Federal Reserve, Christopher Waller, mengindikasikan kemungkinan penurunan suku bunga untuk mencegah kolapsnya pasar tenaga kerja.

Namun, bukan hanya faktor eksternal yang berperan. Di dalam negeri, memanasnya situasi politik dan sosial akibat rencana pemerintah memberikan tunjangan perumahan kepada DPR dan terungkapnya kasus korupsi yang melibatkan mantan aktivis 1998 yang kini menjadi pejabat negara, semakin memperburuk kondisi. Ironisnya, pejabat tersebut pernah lantang menyuarakan hukuman mati bagi pejabat korup. Ketidakstabilan politik dalam negeri ini jelas menambah tekanan terhadap Rupiah dan menimbulkan kekhawatiran investor. Situasi ini menuntut pemerintah untuk segera mengambil langkah-langkah konkret untuk meredam gejolak dan menstabilkan kondisi ekonomi.

Related Post









Tinggalkan komentar