Cerita.co.id melaporkan, penyerapan anggaran pemerintah menunjukkan performa impresif pada awal tahun. Hingga 31 Januari 2026, total realisasi belanja negara telah mencapai Rp227,4 triliun. Angka ini setara dengan 5,9 persen dari pagu Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan menandai lonjakan signifikan sebesar 25,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Wakil Menteri Keuangan, Suahasil Nazara, dalam konferensi pers APBN Kita pada Senin (23/2/2026), menegaskan bahwa tren pengeluaran pemerintah tahun ini jauh lebih progresif. Langkah ini diambil untuk memastikan dinamika perekonomian nasional bergerak lebih cepat sejak awal tahun. "Pembelanjaan negara kita lebih kuat pertumbuhannya dibanding tahun lalu. Tahun ini, kita telah membelanjakan Rp227 triliun, angka yang 25,7 persen di atas capaian tahun sebelumnya," ujar Suahasil, menggarisbawahi komitmen pemerintah.
Realisasi belanja negara tersebut terbagi menjadi dua pilar utama. Alokasi untuk Belanja Pemerintah Pusat tercatat sebesar Rp131,9 triliun, sementara Transfer ke Daerah (TKD) menyumbang Rp95,3 triliun. Suahasil menjelaskan bahwa peningkatan drastis ini merefleksikan dedikasi kementerian dan lembaga dalam mengoptimalkan APBN sebagai instrumen vital untuk kesejahteraan masyarakat dan pendorong pertumbuhan ekonomi.

Related Post
Lebih lanjut, belanja pemerintah pusat dirinci menjadi pengeluaran Kementerian/Lembaga (K/L) senilai Rp55,8 triliun dan belanja Non-K/L sebesar Rp76,1 triliun. Peningkatan tajam pada belanja K/L didorong oleh dua faktor kunci: perluasan program bantuan sosial (bansos) dan implementasi skala besar program Makan Bergizi Gratis (MBG). Khusus untuk bansos, realisasinya per Januari 2026 mencapai Rp9,5 triliun, melonjak lebih dari dua kali lipat dibandingkan Januari 2025 yang hanya Rp4,1 triliun, menunjukkan fokus pemerintah pada perlindungan sosial.









Tinggalkan komentar