Cerita.co.id melaporkan, sebuah langkah signifikan dalam industri energi nasional telah diambil dengan dimulainya tahap implementasi Final Investment Decision (FID) untuk pengembangan Lapangan Gas Mako. Proyek strategis ini berlokasi di Wilayah Kerja Duyung, lepas pantai Kepulauan Anambas, Provinsi Kepulauan Riau, dan dioperasikan oleh West Natuna Exploration Limited (WNEL) bersama SKK Migas dan Conrad Asia Energy. Keputusan investasi ini menandai babak baru dalam upaya Indonesia memperkuat ketahanan energi.
Lapangan Gas Mako kini menjadi fokus investasi kolaboratif antara pemerintah, WNEL sebagai operator, dan PT Nations Natuna Barat. Entitas di bawah Arsari Group ini, yang dikenal memiliki keterkaitan dengan pengusaha terkemuka Hashim Djojohadikusumo, akan memegang mayoritas hak partisipasi di Blok Duyung. Dengan rekam jejak Hashim yang luas di sektor migas serta dukungan pendanaan krusial dari Bank Negara Indonesia (BNI), struktur pembiayaan dan tata kelola proyek diperkuat secara substansial, menjamin kelangsungan pengembangan hingga fase produksi perdana.

Untuk memastikan kepastian komersialisasi gas yang dihasilkan, WNEL telah menuntaskan penandatanganan Perjanjian Jual Beli Gas (Gas Sales Agreement/GSA) dengan PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI). Kesepakatan ini menjadi pilar penting yang tidak hanya mendukung kelayakan finansial proyek, tetapi juga menjamin penyerapan produksi gas Lapangan Mako untuk memenuhi kebutuhan pembangkit listrik nasional, sekaligus berkontribusi pada pasokan energi domestik.

Related Post
Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, dalam keterangannya, menegaskan bahwa implementasi FID Lapangan Gas Mako merupakan langkah strategis vital guna menjaga kesinambungan pasokan gas di tanah air. "Keputusan investasi ini mencerminkan komitmen kuat pemerintah dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) untuk mempercepat pengembangan lapangan gas potensial," ujarnya. Djoko menambahkan bahwa Lapangan Gas Mako diharapkan memberikan kontribusi substansial terhadap produksi gas nasional dan mendukung kebutuhan energi dalam negeri, dengan SKK Migas akan terus mengawal proyek agar berjalan tepat waktu dan sesuai standar keselamatan.
Momentum ini menjadi tonggak sejarah bagi pengembangan Lapangan Gas Mako. Fase implementasi pasca-FID akan mencakup serangkaian kegiatan utama, mulai dari rekayasa (engineering), pengadaan (procurement), konstruksi, pengeboran, instalasi lepas pantai, hingga commissioning dan start-up. Proyek yang telah melalui fase Pre-FID pada tahun 2025 ini ditargetkan mencapai "First Gas" pada Kuartal IV tahun 2027, siap beroperasi sesuai jadwal untuk mendukung kebutuhan energi nasional yang terus meningkat.







Tinggalkan komentar