Cerita.co.id melaporkan, Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan tegas menepis anggapan bahwa fluktuasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) serta arus keluar dana investor asing disebabkan oleh dinamika politik domestik, termasuk pidato-pidato kenegaraan yang belakangan menjadi sorotan di media sosial. Direktur Pengembangan BEI, Jeffrey Hendrik, menegaskan bahwa analisis yang mengaitkan pergerakan pasar dengan situasi politik tidaklah akurat.
Menurut Jeffrey, penyebab utama pergerakan pasar saat ini adalah lonjakan ketidakpastian ekonomi global yang signifikan. Ia menjelaskan bahwa korelasi antara aktivitas politik dan keputusan investasi di pasar modal telah kian menipis jika dibandingkan dengan beberapa dekade lalu, seperti era 1980-an. Fenomena ini, lanjutnya, bukan hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga di berbagai negara dengan tingkat kematangan ekonomi dan pasar modal yang lebih tinggi.
Pernyataan Jeffrey ini menanggapi ramainya diskusi di platform digital yang mencoba menghubungkan penurunan IHSG dengan sejumlah pidato Presiden Prabowo Subianto atau momentum politik lainnya. Jeffrey menegaskan bahwa analisis semacam itu tidak merefleksikan kondisi pasar secara komprehensif, sebab setiap keputusan investasi selalu didasari oleh beragam faktor ekonomi yang rasional, bukan hanya satu atau dua peristiwa politik.

Related Post
Lebih lanjut, Jeffrey menjelaskan bahwa volatilitas pasar saat ini utamanya dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian global. Ia mencontohkan kebijakan tarif resiprokal yang diumumkan oleh pemerintah Amerika Serikat, yang telah menambah ketidakpastian terhadap aktivitas ekonomi dunia. Selain itu, konflik geopolitik yang berkepanjangan, mulai dari perang Rusia-Ukraina hingga eskalasi di Timur Tengah, turut memberikan dampak signifikan terhadap stabilitas pasar keuangan global.








Tinggalkan komentar