Cerita.co.id melaporkan, sebuah kisah inspiratif datang dari Desa Kalongliud, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, yang selama bertahun-tahun hidup dalam bayang-bayang Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di sekitar area tambang PT Aneka Tambang Tbk (Antam) UBPE Pongkor. Namun, kini harapan baru mulai bersemi berkat inisiatif seorang pemuda lokal dan dukungan program keberlanjutan.
Wahyudin, pemuda asli Kalongliud, memilih kembali ke kampung halamannya setelah menyaksikan desanya terperangkap dalam lingkaran aktivitas PETI. Tekanan ekonomi yang mendalam, diperparah oleh kerusakan infrastruktur irigasi akibat bencana alam pada tahun 2020, telah mendorong sebagian penduduk untuk mengambil risiko besar. Mereka terpaksa mencari penghidupan di lubang-lubang tambang ilegal, sebuah pilihan yang seringkali mengancam nyawa demi pendapatan yang tidak pasti.
Wahyudin menyadari bahwa pencegahan PETI tidak cukup hanya dengan penertiban. "Masyarakat butuh alternatif ekonomi yang lebih aman dan layak," ujarnya, seperti dikutip Cerita.co.id. Kekhawatiran atas banyaknya lahan tidur dan terbatasnya lapangan pekerjaan menjadi pendorong utamanya untuk berkontribusi nyata.

Related Post
Pada tahun 2022, Antam Tbk UBPE Pongkor meluncurkan program inovasi sosial bernama Garitan Kalongliud. Wahyudin tidak sekadar menjadi penerima manfaat; ia berdiri di garis depan, memimpin Kelompok Taruna Muda dan mengajak pemuda desa untuk menghidupkan kembali 35 hektare lahan terlantar. Lahan-lahan yang sebelumnya mati kini mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupan.
Tantangan di lapangan tidaklah mudah. Harga pupuk kimia melonjak, hama keong mas menyerang tanaman padi, dan pasokan air terbatas. Namun, bagi Wahyudin, setiap masalah adalah peluang untuk berinovasi. Berbekal pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dari pelatihan Antam, Wahyudin berinovasi dengan menciptakan Pupuk Organik Cair (POC) Beko. Pupuk ini dihasilkan dari proses fermentasi keong mas, hama yang sebelumnya merusak tanaman, dicampur dengan urin domba, sebuah solusi cerdas yang mengubah masalah menjadi sumber daya dan mendorong pertanian berkelanjutan di desa tersebut.









Tinggalkan komentar