Cerita.co.id melaporkan, Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) dengan tegas menolak rencana impor 105.000 unit mobil pick up dari India yang dialokasikan untuk kebutuhan operasional Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih. Penolakan ini disampaikan pada Selasa, 24 Februari 2026, karena dinilai akan membahayakan ribuan pekerja di sektor otomotif nasional, mengancam stabilitas lapangan kerja di tengah kondisi ekonomi yang menantang.
Presiden KSPI sekaligus Partai Buruh, Said Iqbal, mengungkapkan kekhawatiran mendalam bahwa masuknya kendaraan impor dalam jumlah masif ini akan secara signifikan mengurangi volume produksi pabrik otomotif di dalam negeri. Menurutnya, penurunan output produksi tersebut berpotensi memicu gelombang pengurangan kontrak kerja hingga pemutusan hubungan kerja (PHK) bagi buruh lokal. "Anggota kami di produsen-produsen mobil sudah datang dan menyampaikan langsung. Ada potensi PHK karena output produksi bisa turun akibat impor 105.000 pick up dari India," jelas Said Iqbal dalam keterangan resminya yang diterima Cerita.co.id.
Said Iqbal juga mempertanyakan rasionalitas kebijakan impor ini di tengah situasi ketenagakerjaan yang masih rapuh. Ia menyoroti bahwa gelombang PHK masih terus terjadi di berbagai sektor industri, mencontohkan ancaman PHK terhadap 2.500 buruh di PT Pakerin serta proses PHK yang berlangsung di industri makanan. Data Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sekitar 88.000 buruh telah di-PHK, sementara hasil pendataan Litbang Partai Buruh dan KSPI memperkirakan angka tersebut mendekati 100.000 orang hingga Februari.

Related Post
"Di tengah PHK ratusan ribu buruh, tiba-tiba muncul kebijakan yang justru berpotensi menambah PHK di industri otomotif. Ini kebijakan apa? Di mana rasionalitasnya?" tegas Said Iqbal, menyuarakan keresahan para pekerja. Kebijakan ini dianggap kontradiktif dengan upaya menjaga dan menciptakan lapangan kerja di Indonesia.







Tinggalkan komentar