Harga Bahan Bangunan Mencekik Kontraktor

Dana Sulistiyo

Harga Bahan Bangunan Mencekik Kontraktor

Cerita.co.id melaporkan, sektor konstruksi nasional bersiap menghadapi gejolak harga material yang signifikan. Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo mengonfirmasi potensi lonjakan harga material konstruksi, sebuah dampak langsung dari eskalasi konflik di Timur Tengah. Situasi geopolitik tersebut telah memicu kenaikan harga minyak dunia dan fluktuasi nilai tukar rupiah, yang secara tak terhindarkan akan merembet ke biaya pembangunan infrastruktur di Indonesia.

Dody menjelaskan, beberapa jenis material yang paling rentan terhadap kenaikan harga adalah semen, besi, baja, dan aspal. Material-material ini, sebagian besar masih sangat bergantung pada pasokan impor. Meskipun hingga saat ini belum ada penyesuaian harga yang drastis di pasar, Menteri PU memprediksi bahwa kenaikan tersebut hanya tinggal menunggu waktu. "Saat ini belum ada kenaikan, namun saya yakin nanti akan terjadi. Kami akan segera menginformasikan jika harga-harga seperti besi dan semen melonjak tinggi," tegas Dody di Kantor Kementerian PU pada Kamis (2/4/2026).

Harga Bahan Bangunan Mencekik Kontraktor
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Menyikapi potensi beban tambahan bagi para kontraktor, Kementerian PU menegaskan komitmennya untuk melakukan penyesuaian nilai kontrak pada proyek-proyek yang telah ditenderkan. Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa risiko kenaikan harga bahan baku tidak sepenuhnya ditanggung oleh pihak kontraktor. Meski demikian, proses penghitungan ulang eskalasi nilai kontrak untuk berbagai proyek masih dalam tahap finalisasi. "Kami mau tidak mau akan melakukan eskalasi kontrak. Namun, sejauh ini belum terealisasi, kami akan sampaikan pada waktunya," imbuh Dody.

COLLABMEDIANET

Selain penyesuaian kontrak, Kementerian PU juga berencana mengoptimalkan penggunaan material lokal sebagai strategi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan pada impor. Dody menyoroti aspal, di mana hampir 80 persen kebutuhan nasional masih dipenuhi dari luar negeri, sementara hanya 20 persen yang berasal dari produksi lokal. Aspal Buton, yang saat ini baru dimanfaatkan sekitar 4 persen dari total penggunaan aspal nasional, digadang-gadang sebagai alternatif strategis. Ke depan, kontraktor akan diwajibkan untuk meningkatkan penyerapan aspal Buton, sekaligus mengurangi penggunaan aspal impor di tengah ketidakpastian kondisi global.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar