Dolar AS Terkapar Rupiah Melaju

Dana Sulistiyo

Dolar AS Terkapar Rupiah Melaju

Cerita.co.id melaporkan bahwa mata uang Garuda menunjukkan performa impresif pada penutupan perdagangan Senin, 23 Februari 2026. Rupiah berhasil menguat signifikan, melaju 86 poin atau setara 0,51 persen, sehingga menembus level Rp16.802 per dolar Amerika Serikat. Kinerja positif ini memberikan angin segar di tengah dinamika pasar global yang penuh tantangan.

Menurut analisis Ibrahim Assuaibi, seorang pengamat pasar uang, salah satu pendorong utama penguatan rupiah berasal dari sentimen eksternal yang positif. Pasar global saat ini memfokuskan perhatian pada putaran ketiga negosiasi nuklir antara Amerika Serikat dan Iran. Harapan akan meredanya ketegangan geopolitik meningkat setelah Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengindikasikan adanya "peluang bagus" untuk mencapai solusi diplomatik. Pernyataan ini, seperti yang diungkapkan Ibrahim dalam risetnya, ditafsirkan pasar sebagai sinyal kuat kesediaan Iran untuk berkompromi.

Dolar AS Terkapar Rupiah Melaju
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Namun, dinamika pasar juga diwarnai oleh ketidakpastian lain. Presiden Trump baru-baru ini mengumumkan rencana penerapan tarif 10 persen terhadap impor global selama 150 hari, mengacu pada Pasal 122 undang-undang perdagangan AS. Kebijakan ini muncul setelah Mahkamah Agung AS membatalkan skema tarif sebelumnya yang lebih luas. Pemerintah AS kemudian meningkatkan tarif tersebut menjadi 15 persen, batas maksimum yang diizinkan oleh undang-undang. Langkah ini memicu kekhawatiran serius mengenai potensi balasan dagang, gangguan pada rantai pasokan global, serta tantangan hukum dan kongres yang mungkin timbul, yang secara kolektif menambah volatilitas di pasar.

COLLABMEDIANET

Di sisi ekonomi domestik Amerika Serikat, data Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal keempat tahun lalu menunjukkan perlambatan signifikan, merosot dari 4,4 persen menjadi hanya 1,4 persen secara tahunan (YoY). Penurunan ini sebagian besar diakibatkan oleh penutupan operasional pemerintah AS selama 43 hari. Selain itu, data terbaru terkait Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) inti, yang merupakan indikator inflasi pilihan Federal Reserve, menunjukkan peningkatan menjadi 3,0 persen dari sebelumnya 2,8 persen. Angka ini tetap berada di atas target 2 persen bank sentral, memperkuat spekulasi bahwa The Fed kemungkinan besar akan mempertahankan suku bunga acuannya stabil dalam beberapa bulan ke depan.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar