Cerita.co.id melaporkan, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengawali tahun 2026 dengan langkah sigap, menggelar rapat perdana yang berfokus pada program pemulihan industri. Agenda utama pertemuan ini adalah merumuskan strategi "restarting" bagi ribuan industri kecil dan menengah (IKM) yang terdampak parah oleh bencana alam di wilayah Sumatera dan Aceh pada akhir 2025. Tujuannya jelas: memastikan sektor industri dapat bangkit kembali dengan cepat, terkoordinasi, dan berkelanjutan.
Bencana yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera dan Aceh tersebut, menurut Menperin, telah menimbulkan dampak luas. Tidak hanya merusak infrastruktur dan kehidupan masyarakat, tetapi juga melumpuhkan aktivitas industri, khususnya IKM. Berdasarkan data Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas), wilayah Sumatera Utara memiliki 3.520 industri kecil, Sumatera Barat 3.464 industri kecil, dan Aceh 1.954 industri kecil, menunjukkan betapa vitalnya sektor ini bagi ekonomi lokal.
Laporan yang dihimpun hingga 30 Desember 2025 menunjukkan Aceh menjadi wilayah dengan dampak terparah, mencatat 1.647 industri terdampak. Disusul Sumatera Barat dengan 367 industri, dan Sumatera Utara dengan 52 industri. Selain IKM, sektor agro, ILMATE (Industri Logam, Mesin, Elektronika, dan Alat Angkut), serta industri kimia, farmasi, dan tekstil juga merasakan hantaman bencana ini.

Related Post
Dampak yang dirasakan industri melampaui kerusakan fisik fasilitas produksi. Gangguan sistemik pada rantai pasok dan logistik menjadi pemicu utama. Terputusnya akses jalan dan jembatan, terhambatnya distribusi BBM, serta ketidakstabilan pasokan listrik dan air memaksa banyak industri pengolahan menghentikan sementara kegiatan produksi atau beroperasi jauh di bawah kapasitas normal. Industri manufaktur yang mengandalkan sistem just-in-time, misalnya, sangat rentan; gangguan pasokan beberapa hari saja dapat menghentikan lini produksi dan menimbulkan kerugian output yang signifikan.
Dengan pendekatan kebijakan berbasis pangsa nilai tambah, bencana banjir di Sumatera dan Aceh diperkirakan menahan nilai tambah manufaktur nasional pada kisaran Rp11-15 triliun. Angka ini merepresentasikan nilai yang hilang atau tertunda, bukan kerusakan permanen. Namun, dalam jangka pendek, dampaknya sangat terasa pada subsektor yang bergantung pada kelancaran distribusi regional, seperti agroindustri, makanan dan minuman, kimia dasar, serta industri berbasis komoditas.
Menperin menekankan bahwa peran strategis Sumatera sebagai simpul logistik dan pemasok input antara bagi kawasan industri lain, termasuk Pulau Jawa, berarti gangguan di satu wilayah dapat memicu efek berantai yang menekan output manufaktur nasional secara keseluruhan. "Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa ketahanan industri nasional tidak hanya ditentukan oleh lokasi pabrik, tetapi juga oleh ketahanan infrastruktur, sistem logistik, dan jaringan distribusi antarwilayah," tegas Menperin. Ia menambahkan, bencana harus dipahami sebagai guncangan sisi pasok (supply-side shock) yang dampaknya cepat menyebar dan berpotensi menghambat pemulihan ekonomi jika tidak ditangani secara terkoordinasi dan komprehensif. Program pemulihan yang direncanakan mulai 2026 ini diharapkan dapat segera mengembalikan denyut nadi industri di wilayah terdampak.








Tinggalkan komentar