Cerita.co.id melaporkan bahwa gejolak harga minyak global kini menjadi momok serius bagi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia, khususnya untuk tahun anggaran 2026. Dengan harga minyak yang melambung hingga USD116 per barel, pemerintah dihadapkan pada potensi pembengkakan signifikan dalam alokasi subsidi dan kompensasi energi.
Menurut data asumsi makro APBN, setiap kenaikan harga minyak sebesar USD1 per barel dapat membebani kas negara dengan tambahan Rp8 hingga Rp10 triliun untuk subsidi dan kompensasi energi. Apabila harga minyak dunia terus bertahan di kisaran USD90-100 per barel, total belanja subsidi energi bisa kembali menyentuh angka fantastis, bahkan melebihi Rp300 triliun per tahun, sebuah skenario yang pernah terjadi di masa lalu. "Kondisi ini sangat berisiko mengikis ruang fiskal yang seharusnya dialokasikan untuk sektor produktif seperti pembangunan infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan," terang Martinus Pasaribu, seorang Pengamat Otomotif, dalam wawancaranya dengan Cerita.co.id pada Senin (30/3/2026).
Martinus juga menyoroti kerentanan APBN akibat ketergantungan impor minyak yang tinggi. Sekitar 60 hingga 70 persen kebutuhan minyak nasional masih dipasok dari luar negeri, sementara produksi minyak domestik (lifting) terus menurun, hanya berkisar 600 ribu barel per hari. Situasi ini diperparah oleh eskalasi konflik geopolitik, seperti yang terjadi di Selat Hormuz, yang secara langsung memicu ketidakstabilan harga minyak global.

Related Post
Di tengah tantangan ini, kendaraan listrik (EV) muncul sebagai solusi strategis jangka panjang. Penggunaan EV dinilai mampu menekan konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) secara signifikan, yang pada gilirannya akan mengurangi ketergantungan impor dan memangkas beban subsidi BBM yang selama ini banyak dinikmati oleh sektor transportasi. Dari aspek efisiensi, EV menawarkan penghematan yang substansial. Biaya energi untuk kendaraan listrik rata-rata hanya Rp300-500 per kilometer, jauh lebih hemat dibandingkan kendaraan bensin yang bisa mencapai Rp1.000-1.500 per kilometer. Ini berarti pengguna dapat menghemat biaya operasional hingga 60-70 persen.
Martinus menegaskan, dampak positif dari adopsi kendaraan listrik sangat besar. "Diperkirakan, jika satu juta unit mobil listrik beroperasi, kita bisa menghemat sekitar 1,25 juta kiloliter BBM setiap tahun. Sementara itu, lima juta unit motor listrik berpotensi menghemat hingga 1,75 juta kiloliter BBM," pungkasnya, menunjukkan potensi besar EV dalam menjaga stabilitas fiskal negara.









Tinggalkan komentar