Berita dari Cerita.co.id menyebutkan Presiden Prabowo Subianto menargetkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia bebas defisit pada tahun 2027. Pernyataan ambisius ini disampaikan Prabowo saat pemaparan arsitektur APBN 2026 di Sidang Paripurna DPR RI. Ia berharap dapat berdiri di podium tersebut suatu saat nanti, menyampaikan APBN yang benar-benar seimbang tanpa defisit.
Namun, target ini menuai beragam tanggapan. Ekonom INDEF, Esther Sri Astuti, menilai wacana APBN berimbang bukanlah hal baru, mengingat pernah diterapkan pada era Soeharto. Meskipun demikian, ia menekankan pentingnya komunikasi publik yang efektif terkait target ini. Implementasinya, menurut Esther, membutuhkan upaya serius dan terukur.

Senada dengan Esther, Syafruddin Karimi dari Departemen Ekonomi Universitas Andalas, juga mengingatkan perlunya kehati-hatian. Ia menyoroti empat agenda krusial untuk mencapai keseimbangan fiskal dan memperkuat peran APBN dalam pembangunan.

Related Post
Pertama, reformasi perpajakan menjadi kunci. Digitalisasi sistem perpajakan perlu dipercepat, kepatuhan wajib pajak ditingkatkan, dan diversifikasi sumber penerimaan pajak digalakkan. Syafruddin menegaskan bahwa peningkatan target pajak saja tidak cukup tanpa perbaikan instrumen pemungutan dan pengawasan yang efektif.
Kedua, revitalisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) juga mendesak. Optimalisasi pengelolaan sumber daya alam (SDA) dan peningkatan kontribusi dividen dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menjadi prioritas. Namun, Syafruddin menambahkan perlunya eksplorasi sumber penerimaan baru dari ekonomi digital dan layanan publik modern untuk menunjang target APBN yang ambisius ini. Tantangan besar ini menuntut strategi jitu dan komitmen kuat dari pemerintah untuk mewujudkan visi APBN tanpa defisit di tahun 2027.









Tinggalkan komentar