Laporan Cerita.co.id menyebutkan harga daging sapi masih meroket hingga Rp120.000 hingga Rp130.000 per kilogram. Kondisi ini memantik protes keras dari para pedagang yang menilai harga tersebut tidak masuk akal, terlebih pasca Idul Adha 2025. Retan, seorang pedagang daging di Jakarta, mengungkapkan kecurigaannya terhadap praktik monopoli yang diduga dilakukan oknum tertentu. Menurutnya, melimpahnya stok daging seharusnya berbanding lurus dengan penurunan harga, bukan malah sebaliknya.
"Harga naik tinggi sejak Iduladha, ini mencurigakan! Ada permainan di baliknya," tegas Retan. Ia menambahkan bahwa seharusnya harga daging cenderung turun setelah Idul Adha karena permintaan yang menurun. Namun, realitanya justru sebaliknya. Kondisi ini, menurut Retan, merugikan konsumen dan pedagang kecil. Ia pun menyarankan agar pemerintah atau BUMN mengambil alih pengelolaan distribusi daging sapi untuk menstabilkan harga.

Senada dengan Retan, Rohim, pedagang daging lainnya, juga mendesak pemerintah untuk turun tangan. Ia berpendapat bahwa intervensi pemerintah sangat diperlukan untuk mencegah eksploitasi harga dan melindungi daya beli masyarakat. Kenaikan harga daging sapi yang signifikan ini berpotensi memicu inflasi dan menurunkan daya beli masyarakat luas. Para pedagang berharap pemerintah segera mengambil langkah konkrit untuk mengatasi masalah ini dan mengembalikan harga daging sapi ke level yang wajar dan terjangkau. Ketidakpastian harga ini, jelas berdampak pada usaha mereka dan kesejahteraan masyarakat.

Related Post










Tinggalkan komentar