Cerita.co.id — Gelombang kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi, khususnya Pertamax 92, telah memicu keresahan di kalangan pengemudi taksi daring. Lonjakan harga yang signifikan memaksa mereka memutar otak demi menjaga dapur tetap ngebul, dengan opsi beralih ke Pertalite sebagai langkah penyelamatan operasional.
Kini, Pertamax 92 dibanderol Rp 16.250 per liter, sebuah lompatan drastis yang hampir menyentuh angka Rp 4.000 dari harga sebelumnya. Situasi ini berbeda jauh dengan Pertalite RON 90 yang masih menikmati subsidi pemerintah, sehingga harganya stabil di angka Rp 10.000 per liter. Fluktuasi harga Pertamax yang mengikuti dinamika pasar minyak global menjadi beban tak terhindarkan bagi penggunanya.
Bagi para pengemudi taksi online, kenaikan ini bukan sekadar angka, melainkan ancaman serius terhadap margin keuntungan mereka. Bertahan menggunakan Pertamax 92 berarti siap menghadapi pembengkakan biaya operasional yang bisa mengikis pendapatan secara drastis.

Related Post
Salah satu pengemudi yang merasakan langsung dampak ini adalah Doni. Pria yang sehari-hari mengandalkan mobil Daihatsu Ayla generasi lama untuk mencari nafkah ini, mengaku selalu setia menggunakan Pertamax sejak awal membeli kendaraannya. "Paling pakai Pertalite kalau mobilnya lagi dipinjam teman," ujarnya kepada Cerita.co.id.
Namun, lonjakan harga Pertamax 92 yang mengejutkan itu kini membuatnya berpikir ulang. "Kayaknya agak berat kalau pakai Pertamax terus. Sudah enggak sanggup. Lumayan mahal harganya, Rp 16 ribu. Bedanya lebih dari 60% dari Pertalite," keluh Doni. Ia kini serius mempertimbangkan opsi beralih total ke Pertalite, atau setidaknya mencampurnya dengan Pertamax untuk menekan pengeluaran. Untungnya, mobil LCGC seperti Daihatsu Ayla generasi lama, dengan rasio kompresi mesin antara 9:1 hingga 10:1, masih aman dan sesuai rekomendasi pabrikan untuk menggunakan bahan bakar RON 90 seperti Pertalite.
Fenomena ini mencerminkan realitas pahit yang dihadapi banyak pengemudi taksi online di Indonesia. Di tengah persaingan ketat dan pendapatan yang fluktuatif, efisiensi biaya operasional, terutama bahan bakar, menjadi kunci utama untuk tetap bertahan di jalanan.








Tinggalkan komentar