Cerita.co.id, Jakarta – Dunia MotoGP dikejutkan dengan pengakuan blak-blakan Jorge Martin. Pembalap yang dijuluki "The Martinator" ini akhirnya membongkar "janji palsu" dari tim pabrikan Ducati yang telah menghantuinya. Dalam sebuah wawancara podcast yang diungkap oleh Todo Circuito dari Gypsy Tales, Martinator membeberkan rahasia yang selama ini tersimpan rapat: ia ternyata sudah menandatangani kontrak resmi untuk bergabung dengan tim utama Ducati, jauh sebelum kedatangan Marc Marquez menjadi isu. Namun, impian itu buyar setelah kontraknya dibatalkan sepihak.
Martin mengungkapkan betapa beratnya momen pembatalan tersebut. "Saya sebenarnya sudah menandatangani kontrak untuk musim 2023 di atas motor pabrikan," tuturnya, menirukan percakapan saat itu. "Namun di satu titik, mereka berkata kepada saya, ‘Oke, kamu tidak jadi ke sana. Kami tidak menginginkanmu. Kami ingin pembalap lain.’" Martinator menambahkan bahwa tidak ada satu pun orang yang mengetahui detail kontrak yang sudah ditekennya itu. Meskipun sangat kecewa, ia akhirnya terpaksa mengalah dan menerima kesepakatan untuk tetap di Prima Pramac Racing, dengan kompensasi jaminan motor spek pabrikan.
Namun, kisah pahit itu ternyata terulang kembali di musim berikutnya. Setelah menunjukkan performa gemilang dengan menyabet gelar runner-up dunia pada tahun 2023 dan bertarung sengit hingga seri terakhir, Martin kembali diberi harapan untuk ditarik ke tim utama. Sayangnya, keputusan itu kembali dibatalkan di tengah jalan. Situasi ini membuat pembalap asal Madrid tersebut sangat kecewa dengan etika manajemen tim besar dalam memperlakukan para pembalapnya. "Kontrak tidak ada artinya bagi pabrikan besar. Mereka hanya mempermainkan para pembalap, tidak diragukan lagi. Padahal kami sudah memberikan 100 persen di lintasan," sindir Martin dengan nada getir.

Related Post
Martin dengan jujur mengakui bahwa ia memahami adanya faktor non-teknis dan magnet komersial yang sangat besar dari seorang Marc Marquez, sesuatu yang di luar kendalinya. Kehadiran dan nama besar Marquez memang menjadi penentu yang mengubah arah kebijakan di markas Borgo Panigale. Martin bahkan menyamakan nasib tragisnya dengan pembalap Formula 1, Carlos Sainz, yang posisinya di Ferrari digusur oleh Lewis Hamilton. "Ketika memikirkannya, saya juga teringat Carlos Sainz ketika dia kehilangan kursinya karena Hamilton. Bagaimanapun, dia adalah juara dunia tujuh kali. Tidak ada yang bisa saya lakukan. Jadi situasi ini kurang lebih sama," tegas pembalap Spanyol itu. Ia menambahkan, "Marquez adalah satu-satunya pembalap yang bisa menghalangi saya bergabung dengan tim pabrikan. Nama Marquez memiliki bobot yang sangat besar, dan jika dia menginginkan motor itu, dia akan mendapatkannya." Martin merasa tidak berdaya, padahal saat itu ia memimpin kejuaraan dengan selisih 40 poin. "Hanya itu hal yang bisa saya kendalikan. Tapi ada faktor lain yang tidak bisa saya lawan," lanjutnya.
Martin akhirnya menyadari bahwa kebersamaannya dengan Ducati akan segera berakhir saat gelaran GP Italia 2024. Namun, justru dari titik terendah itu muncul sebuah motivasi baru. Kepastian kepindahannya ke Aprilia menjadi bahan bakar yang membakar semangatnya. Momen di Sirkuit Mugello itu mengubah pendekatannya, membuatnya tampil jauh lebih lepas dan tanpa beban di sisa balapan musim tersebut. "Keputusan atau momen di Mugello 2024 itu membantu saya untuk berkata: ‘Oke, ini sudah selesai. Saya akan ke Aprilia. Terserahlah. Ayo, mari tampil habis-habisan musim ini.’ Dan berkat hal itu, saya berhasil memenangkan kejuaraan," pungkas Martin, menutup kisahnya dengan sebuah ironi manis.








Tinggalkan komentar