Motor MBG Cuma Rp 8 Juta

Motor MBG Cuma Rp 8 Juta

Cerita.co.id – Sebuah polemik baru menyeruak terkait pengadaan motor listrik untuk operasional program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kendaraan jenis EMMO JVX GT yang digunakan, kini menjadi pusat perhatian setelah diduga keras memiliki kemiripan dengan produk asal Tiongkok, Kollter ES1-X PRO, yang dibanderol dengan harga jauh lebih rendah.

Dugaan ini semakin kuat setelah penelusuran di platform e-commerce global Alibaba menunjukkan Kollter ES1-X PRO ditawarkan seharga sekitar Rp 10 jutaan untuk pembelian satuan. Menariknya, harga tersebut bisa merosot drastis hingga kisaran Rp 8 jutaan apabila dibeli dalam jumlah lebih dari satu unit.

Motor MBG Cuma Rp 8 Juta
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Kontras dengan harga di pasar internasional, EMMO JVX GT di Indonesia dilaporkan dijual dengan harga fantastis, mencapai Rp 56 juta per unit. Jika kedua motor ini memang merupakan produk yang sama atau berbasis platform yang identik, maka selisih harga mencapai puluhan juta rupiah menjadi pertanyaan besar yang perlu dijawab.

COLLABMEDIANET

Perbandingan visual antara EMMO JVX GT dan Kollter ES1-X PRO memang menunjukkan kemiripan yang mencolok. Kedua motor listrik ini tidak hanya berbagi desain dasar sebagai motor trail, namun juga detail-detail kecil seperti bentuk lampu, windshield, jok, rangka, spatbor, hingga bagian ekor. Perbedaan signifikan yang terlihat hanyalah pada emblem dan striping yang tersemat di bodi kendaraan. Bahkan, detail minor seperti strip ganda di area fairing, mata kucing dekat pijakan kaki, dan aksen besi di bagian buntut pun tampak identik.

Meskipun spesifikasi lengkap Kollter ES1-X PRO tidak sepenuhnya tertera di laman Alibaba, informasi singkat menyebutkan penggunaan baterai 72V dengan jangkauan 70-80 km, identik dengan data yang diketahui dari EMMO JVX GT.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak EMMO yang mengklarifikasi dugaan kemiripan dan perbedaan harga tersebut. Upaya Cerita.co.id untuk meminta konfirmasi dari Ketua Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, juga belum membuahkan hasil.

Menanggapi fenomena ini, pengamat otomotif senior dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Pasaribu, memberikan pandangannya. Menurut Yannes, kemiripan desain antara motor listrik "buatan Indonesia" dengan produk Tiongkok seringkali disebabkan oleh strategi untuk menekan biaya produksi.

Ia menjelaskan, mayoritas industri motor listrik di Indonesia masih sangat bergantung pada sistem Completely Knocked Down (CKD) dari China. "Mereka cenderung tidak mau membangun jejaring industri komponen di dalam negeri, demi mengejar keuntungan lebih cepat," ujar Yannes saat dihubungi.

"Alasan utamanya," lanjut Yannes, "adalah biaya produksi yang lebih rendah, akses teknologi yang cepat, serta kemudahan dalam memenuhi persyaratan e-Katalog Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP)."

Namun, kebiasaan ini membawa dampak buruk jangka panjang. Yannes menyoroti terhambatnya proses transfer teknologi sebagai salah satu konsekuensi utama. "Akibatnya, pertumbuhan perakitan kita hanya akan menciptakan nilai tambah ekonomi Indonesia yang minim, transfer teknologi yang lambat, dan ketergantungan pada komponen impor serta capital flight yang semakin membesar," tegasnya.

Polemik ini masih menunggu jawaban resmi dari pihak terkait untuk mengurai kejelasan di balik dugaan kemiripan dan selisih harga yang sangat signifikan.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar