Cerita.co.id melaporkan, pergerakan harga emas global dan domestik menunjukkan tren penurunan signifikan di penghujung pekan. Tekanan kuat dari penguatan dolar Amerika Serikat serta meningkatnya ketegangan geopolitik dunia menjadi faktor utama yang menyeret harga logam mulia ini. Analis memprediksi, kondisi ini berpotensi berlanjut, membuat harga emas sulit menembus level psikologis Rp3 juta per gram pada pekan mendatang.
Pada perdagangan Sabtu pagi, harga emas dunia tercatat di angka USD 4.497,37 per troy ons, mengalami koreksi tajam dari sesi sebelumnya. Sejalan dengan pasar global, harga logam mulia di pasar domestik juga terpukul, ditutup di kisaran Rp2.893.000 per gram. Menurut Ibrahim Assuaibi, seorang analis keuangan yang diwawancarai Cerita.co.id, pelemahan ini bukan tidak mungkin akan terus terjadi.

"Ada probabilitas besar bahwa minggu depan harga logam mulia akan tetap berada di bawah Rp3 juta, kemungkinan di sekitar Rp2.890.000 per gram," jelas Ibrahim. Secara teknis, jika tekanan jual terus mendominasi, harga emas global diproyeksikan akan menguji titik dukungan pertama di USD 4.423,06 per troy ons. Apabila tekanan semakin dalam, titik dukungan berikutnya berada di kisaran USD 4.319,00, yang dapat mendorong harga emas lokal turun hingga rentang Rp2.840.000 sampai Rp2.800.000 per gram.

Related Post
Meski demikian, potensi kenaikan harga emas tidak sepenuhnya tertutup. Jika harga berhasil membalikkan arah dan menembus resistansi di USD 4.559,86 per troy ons, logam mulia berpeluang naik ke kisaran Rp2.920.000 per gram. Bahkan, jika penguatan berlanjut menembus resistansi kedua di USD 4.681,50, harga emas diperkirakan mendekati Rp2.980.000 per gram, meskipun masih di bawah batas Rp3 juta. Ibrahim menambahkan, pergeseran minat investor ke dolar AS, yang dianggap lebih menarik dalam jangka pendek, menjadi pemicu utama tekanan ini. Indeks dolar diprediksi menguat menuju level 101,20 dari titik dukungan 98,73, semakin menekan nilai emas di pasar global.









Tinggalkan komentar