JAKARTA – Minggu, 22 Maret 2026
Cerita.co.id melaporkan, ketegangan di Timur Tengah kembali memuncak setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan ultimatum keras kepada Iran. Trump memperingatkan Teheran untuk segera membuka blokade Selat Hormuz dalam waktu 48 jam. Jika tidak, AS mengancam akan melancarkan serangan terhadap infrastruktur energi Iran.

Melalui platform media sosialnya, Trump dengan tegas menyatakan, "Jika Iran tidak sepenuhnya membuka Selat Hormuz tanpa ancaman dalam waktu 48 jam sejak sekarang, Amerika Serikat akan menyerang dan menghancurkan berbagai pembangkit listrik mereka, dimulai dari yang terbesar." Pernyataan ini, yang juga dilansir oleh Reuters, menggarisbawahi keseriusan ancaman Washington.

Related Post
Ancaman tersebut muncul di tengah situasi yang semakin genting, di mana banyak kapal enggan melintasi Selat Hormuz. Jalur maritim ini merupakan arteri vital yang mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia. Kondisi ini telah memicu kekhawatiran serius akan terjadinya guncangan energi global yang berpotensi melumpuhkan perekonomian dunia. Dampaknya sudah terasa, dengan harga gas di Eropa melonjak tajam hingga 35 persen hanya dalam sepekan terakhir.
Menanggapi ancaman AS, Markas Komando Militer Khatam al-Anbiya Iran tidak tinggal diam. Mereka menyatakan akan membalas dengan menargetkan seluruh infrastruktur energi, teknologi informasi, dan fasilitas desalinasi milik AS di kawasan tersebut, jika Washington berani menyerang infrastruktur bahan bakar dan energi Iran.
Ini bukan kali pertama Trump melontarkan ancaman serupa. Sebelumnya, pada Kamis lalu, ia juga telah mengancam akan menyerang ladang gas South Pars secara besar-besaran, menunjukkan pola kebijakan luar negeri yang agresif terhadap Iran. Situasi ini menempatkan dunia dalam ketidakpastian, menanti apakah ultimatum 48 jam ini akan diindahkan atau justru memicu eskalasi konflik yang lebih luas.









Tinggalkan komentar