Cerita.co.id – Program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes Merah Putih) tengah menjadi pusat perhatian publik. Rencana pengadaan 105.000 unit kendaraan pickup dari India memicu gelombang kritik, terutama terkait potensi risiko terhadap industri otomotif domestik dan masalah layanan purna jual di masa mendatang.
Kekhawatiran utama disuarakan oleh Saleh Husin, Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perindustrian. Ia menyoroti potensi jangka panjang dari penggunaan unit impor dalam jumlah masif. Menurutnya, masalah aftersales atau ketersediaan suku cadang bisa menjadi bumerang, berpotensi mengubah kendaraan impor tersebut menjadi ‘bangkai’ setelah beberapa tahun beroperasi. "Bisa bayangkan kalau 105.000 mobil yang dipakai Kopdes Merah Putih adalah produk impor, bagaimana dengan layanan purna jualnya? Kebijakan itu bisa membuat mobil impor menjadi bangkai setelah sekian tahun akibat kesulitan suku cadang," ungkap Saleh Husin dalam keterangan resminya.
Menanggapi kekhawatiran tersebut, Joao Angelo De Sousa Mota, Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara—pihak pelaksana pembangunan fisik program Kopdes Merah Putih—memberikan klarifikasi. Joao menjelaskan bahwa dua raksasa otomotif India, Tata Motors dan Mahindra, memiliki strategi bisnis yang matang. Mereka memulai dengan penguatan fondasi suku cadang sebelum menjual unit kendaraan, kemudian dilanjutkan dengan persiapan pembukaan bengkel di seluruh wilayah operasional mereka.

Related Post
Joao juga mengungkapkan isi kontrak kerja sama yang mewajibkan kedua merek tersebut untuk berinvestasi lebih dalam di Tanah Air. Ini tidak hanya mencakup pembukaan bengkel dan dealer, melainkan juga pembangunan fasilitas perakitan atau pabrik. "Selain menyiapkan bengkel-bengkel, menyiapkan dealer-dealer, mereka juga sudah sepakat, mungkin bisa saya tunjukkan nanti, mereka harus membangun pabrik di Indonesia. Kemudian untuk Tata sendiri akan membuka pabriknya di Indonesia 2029," beber Joao.
Agrinas menyatakan kebutuhan mendesak akan 105.000 unit kendaraan untuk mengaktifkan 30.712 koperasi desa. Impor menjadi solusi sementara, diiringi janji investasi pabrik di masa depan. Sebanyak 35.000 unit Scorpio Pickup akan dipasok oleh Mahindra, sementara 70.000 unit lainnya berasal dari Tata Motors, yang terdiri atas 35.000 unit Yodha Pickup dan 35.000 unit Ultra T.7 Light Truck.
Joao membantah tudingan bahwa pihaknya tidak melibatkan pabrikan otomotif yang sudah memiliki fasilitas produksi di dalam negeri. Ia mengaku telah melakukan negosiasi dengan sejumlah pemain besar seperti Group Astra, Mitsubishi Fuso, Mitsubishi, Hino, dan Foton. Namun, menurutnya, hanya beberapa merek yang sanggup memenuhi permintaan Agrinas.
Pihaknya mengajukan penawaran pembelian dalam volume besar atau "gelondongan", dengan harapan mendapatkan harga yang lebih ekonomis dan efektif sesuai anggaran negara. Namun, kenyataan di meja perundingan justru sebaliknya. Produsen lokal yang telah lama mendominasi pasar Indonesia disebut enggan memberikan fleksibilitas harga tersebut. "Mereka (produsen lokal) cenderung merasa bahwa membeli bulk itu tidak ada bagi mereka, tetap dihitung per unit. Menurut saya itu tidak fair," tegas Joao.
Joao menambahkan, dominasi produsen lokal selama puluhan tahun di Indonesia membuat mereka tidak melihat urgensi untuk memberikan harga khusus pada proyek negara yang sifatnya temporer ini. "Ini kan kegiatan khusus yang hanya dilakukan pada satu tahun ini. Jadi seharusnya kami juga bisa diberikan harga khusus sehingga kami mampu berdeal dengan mereka," tambahnya.
Karena produsen lokal tetap bertahan pada skema harga pasar biasa (per unit), Agrinas akhirnya memilih mencari alternatif ke luar negeri. India, melalui Tata Motors dan Mahindra, hadir dengan penawaran yang dianggap lebih masuk akal dan sesuai dengan anggaran proyek Koperasi Merah Putih. Keputusan impor ini, menurut Joao, menjadi langkah terakhir yang terpaksa diambil. "Sampai dengan terakhir kami tidak mendapatkan kesempatan untuk diberikan harga yang khusus, sehingga kami terpaksa melakukan impor dari luar, khususnya India," tutup Joao.








Tinggalkan komentar