Impor Pickup India Terpaksa

Dana Sulistiyo

Impor Pickup India Terpaksa

Cerita.co.id, Jakarta – PT Agrinas Pangan Nusantara akhirnya mengambil langkah drastis dengan mengimpor 70.000 unit kendaraan niaga jenis pickup dari India. Keputusan ini, yang diungkapkan oleh Direktur Utama Agrinas, Joao Angelo De Sousa Mota, pada Selasa (24/2/2026), menjadi solusi cepat untuk menjawab kebutuhan armada masif bagi operasional Koperasi Desa (Kopdes)/Kelurahan Merah Putih yang kini tengah gencar dibangun di seluruh Indonesia.

Joao menjelaskan urgensi di balik kebijakan impor ini. Hingga saat ini, sebanyak 1.357 bangunan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih telah rampung dan siap dioperasikan. Dengan target total mencapai 30.712 bangunan, kebutuhan unit kendaraan dalam jumlah besar dan dalam waktu singkat menjadi sangat mendesak. "Karena sampai hari ini kita sudah membangun 30.712. Dan yang sudah jadi sampai hari ini adalah 1.357 bangunan sudah berdiri dan kita akan segera me-running-nya, sehingga itu mendesak untuk kita segera suplai," tegas Joao.

Impor Pickup India Terpaksa
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Puluhan ribu unit pickup tersebut akan dibagi rata, dengan 35.000 unit berasal dari merek Mahindra dan 35.000 unit lainnya dari Tata Motors.

COLLABMEDIANET

Bantahan Abai Produsen Lokal

Joao menampik tudingan bahwa Agrinas mengabaikan potensi pabrikan otomotif di dalam negeri. Ia menegaskan bahwa pihaknya telah melakukan negosiasi intensif dengan sejumlah pemain besar, termasuk Group Astra, Mitsubishi Fuso, Hino, dan Foton. Namun, negosiasi tersebut kerap menemui jalan buntu.

Sebagai contoh, Isuzu hanya mampu menyuplai 900 unit. Keterbatasan ini, menurut Joao, disebabkan oleh kapasitas karoseri lokal yang sudah penuh dipesan oleh merek-merek lain. "Mereka hanya mampu mensuplai 900 itu karena deal yang dengan Isuzu terjadi belakangan, sehingga mereka tidak bisa mendapatkan suplai karoseri," jelasnya.

Penawaran dari Group Astra berupa Isuzu D-Max dan Toyota Hilux juga gagal mencapai kesepakatan. Untuk Hilux, masalah utama terletak pada harga yang tidak disepakati serta kemampuan produksi yang terbatas, hanya 800 unit untuk periode April hingga Mei 2026. "Harga yang mereka tawarkan tidak kami sepakati," ungkap Joao.

Truk dari Lokal dan Tiongkok

Meskipun demikian, Agrinas berhasil menjalin kerja sama untuk segmen truk. Krama Yudha (Mitsubishi Fuso) akan menyuplai 20.600 unit truk roda 6, sesuai kapasitas produksi mereka hingga akhir tahun. Hino Motor, setelah lobi ke pihak Jepang, sanggup menyuplai 10.000 unit, dengan kemampuan produksi 120 unit per bulan. Sementara itu, Foton dari Tiongkok akan mengirimkan 13.500 unit Foton Auman.

Kendala Kapasitas dan Harga Khusus

Diskusi dengan produsen lokal kendaraan niaga ringan populer seperti Suzuki Carry dan Daihatsu Gran Max juga tidak membuahkan hasil. Joao mengungkapkan bahwa kapasitas produksi kedua model tersebut, yang diperkirakan hanya sekitar 100.000 hingga 120.000 unit per tahun, sudah terserap habis oleh pasar yang ada, termasuk untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan kebutuhan petani.

Lebih lanjut, Joao menyoroti masalah harga. Agrinas mengajukan penawaran pembelian "gelondongan" atau dalam jumlah sangat besar, dengan harapan mendapatkan harga yang lebih ekonomis dan sesuai anggaran negara. Namun, produsen lokal bersikukuh pada skema harga per unit, tanpa mempertimbangkan skala pembelian besar ini.

"Mereka (produsen lokal) cenderung merasa bahwa membeli bulk itu tidak ada bagi mereka, tetap dihitung per unit. Menurut saya itu tidak fair," tegas Joao. Ia menambahkan bahwa dominasi produsen lokal selama puluhan tahun di pasar Indonesia membuat mereka kurang melihat urgensi untuk memberikan harga khusus pada proyek negara yang bersifat temporer ini. "Ini kan kegiatan khusus yang hanya dilakukan pada satu tahun ini. Jadi seharusnya kami juga bisa diberikan harga khusus sehingga kami mampu ber-deal dengan mereka," harapnya.

Karena tidak adanya fleksibilitas harga dari produsen lokal, Agrinas akhirnya terpaksa mencari alternatif ke luar negeri. India, melalui Tata Motors dan Mahindra, hadir dengan penawaran yang dinilai lebih masuk akal dan sesuai dengan kantong anggaran proyek Koperasi Merah Putih. Impor pun menjadi opsi terakhir yang tak terhindarkan.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar