Cerita.co.id melaporkan bahwa industri otomotif nasional tengah menghadapi ancaman serius. Rencana masif impor 105.000 unit truk pickup dari India, yang digagas oleh PT Agrinas Pangan Nusantara untuk mendukung operasional Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP), berpotensi menggempur pasar domestik di saat penjualan pickup lokal justru sedang lesu.
Data penjualan pickup dalam negeri menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Sepanjang tahun 2025, distribusi wholesales pickup lokal hanya menyentuh angka 107.008 unit. Angka ini merepresentasikan sekitar 13,3 persen dari total penjualan otomotif nasional. Sementara itu, penjualan retail (dari dealer ke konsumen) sedikit lebih tinggi, yakni 110.574 unit. Ironisnya, volume impor yang direncanakan dari India hampir menyamai seluruh total penjualan retail pickup di Indonesia.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan dua tahun sebelumnya. Pada tahun 2023, pasar pickup sempat menunjukkan gairah positif, dengan distribusi wholesales mencapai 116.986 unit dan angka retail menembus 124.052 unit. Namun, alih-alih terus meroket, grafik penjualan justru merayap turun hingga tahun 2025, menjadi sinyal peringatan bagi industri otomotif lokal, terutama di tengah rencana gempuran unit impor yang begitu masif.

Related Post
Proyek Impor Triliunan Rupiah
Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Evita Nursanty, menyoroti kontrak pengadaan kendaraan niaga senilai Rp 24,66 triliun ini. Proyek tersebut mencakup pengadaan total 105.000 unit kendaraan dari dua raksasa otomotif India. Mahindra akan memasok 35.000 unit Scorpio Pik Up, sementara Tata Motors akan mengirimkan 70.000 unit lainnya, terdiri atas 35.000 unit Yodha Pick-Up dan 35.000 unit Ultra T.7 Light Truck. Evita menilai, kebijakan ini memiliki dampak strategis yang luas, tidak hanya pada distribusi pangan desa tetapi juga terhadap arah kebijakan industri nasional secara keseluruhan.
Di sisi lain, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menegaskan bahwa anggota-anggota mereka memiliki kapasitas produksi pickup yang sangat besar, mencapai lebih dari 400.000 unit per tahun, namun belum dapat dimanfaatkan secara optimal. Kendaraan-kendaraan produksi dalam negeri ini umumnya berjenis penggerak 4×2, dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang cukup tinggi, melampaui 40%. Kendaraan komersial ini juga telah terbukti mampu memenuhi kebutuhan masyarakat di seluruh pelosok tanah air, didukung oleh jaringan servis purna jual yang tersebar luas. Gaikindo menambahkan, produksi kendaraan jenis penggerak 4×4 juga memungkinkan, meski memerlukan waktu untuk persiapan.
Dampak Ekonomi dan Seruan Menperin
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita secara lugas menyatakan bahwa penguatan produksi kendaraan pickup dalam negeri memiliki dampak ekonomi yang sangat signifikan bagi Indonesia. Sebagai ilustrasi, Menperin menyampaikan bahwa apabila pengadaan 70.000 unit kendaraan pickup (4×2) dipenuhi oleh produk dalam negeri, maka akan memberikan dampak positif ekonomi (backward linkage) sekitar Rp 27 triliun.
Menurut Agus, jika kebutuhan kendaraan pickup dipenuhi melalui produksi lokal, maka nilai tambah ekonomi dan penyerapan tenaga kerja akan dinikmati sepenuhnya oleh Indonesia. Subsektor yang berkaitan langsung dengan produksi kendaraan pickup sangat beragam, meliputi industri ban, kaca, baterai basah (aki), logam, kulit, plastik, kabel, elektronik, dan banyak lagi.
"Apabila seluruh kebutuhan kendaraan pick-up dipenuhi melalui impor, maka nilai tambah ekonomi dan penyerapan tenaga kerja akan dinikmati oleh industri di luar negeri. Namun, apabila kebutuhan tersebut dapat dipenuhi oleh industri dalam negeri, maka manfaat ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan penguatan industri nasional juga akan dirasakan di dalam negeri," tegas Agus dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (19/2).
Menperin menjelaskan bahwa industri otomotif nasional saat ini memiliki kemampuan produksi kendaraan pickup dengan kapasitas yang substansial, mencapai sekitar 1 juta unit per tahun. Beberapa produsen kendaraan pickup terkemuka di Indonesia antara lain PT Astra Daihatsu Motor, PT Isuzu Astra Motor Indonesia, PT Mitsubishi Motor Krama Yudha Indonesia, PT Suzuki Indomobil Motor, PT SGMW Motor Indonesia, dan PT Sokonindo Automobile.
"Dengan kapasitas tersebut, industri kendaraan pick-up nasional dinilai mampu memenuhi kebutuhan pasar domestik sekaligus memperkuat daya saing industri otomotif Indonesia di tingkat global," pungkas Agus, menekankan pentingnya prioritas produk dalam negeri di tengah gempuran impor.








Tinggalkan komentar