Rupiah Loyo Dihantam Dolar AS

Dana Sulistiyo

Rupiah Loyo Dihantam Dolar AS

Cerita.co.id melaporkan, nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menunjukkan pelemahan signifikan pada penutupan perdagangan hari ini. Mata uang Garuda terperosok 38 poin atau sekitar 0,23 persen, menembus level Rp16.725 per dolar AS. Kondisi ini memicu kekhawatiran di tengah pasar keuangan, dengan berbagai faktor global dan domestik menjadi pemicu utama tekanan ini.

Pengamat Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa sentimen eksternal menjadi salah satu pendorong utama kemerosotan Rupiah. Risalah Rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) Desember lalu mengungkapkan adanya perbedaan pandangan di antara pejabat The Fed. Beberapa memilih untuk mempertahankan suku bunga, sementara yang lain melihat potensi penurunan lebih lanjut jika inflasi terus melandai. Ketidakpastian arah kebijakan moneter AS ini kerap membuat investor menarik dananya dari pasar berkembang.

Rupiah Loyo Dihantam Dolar AS
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Selain itu, ketegangan geopolitik global turut memperkeruh suasana. Konflik Rusia-Ukraina yang terus memanas, dengan saling tuding serangan sipil dan Kyiv yang menargetkan infrastruktur energi Rusia, menciptakan ketidakpastian. Sanksi terbaru AS terhadap empat perusahaan dan kapal tanker minyak terkait sektor minyak Venezuela juga menambah daftar panjang kekhawatiran global. Di Timur Tengah, serangan udara Saudi di Yaman dan deklarasi Iran tentang "perang skala penuh" dengan AS, Eropa, dan Israel, semakin meningkatkan kekhawatiran akan instabilitas yang lebih luas, mendorong investor beralih ke aset yang lebih aman seperti dolar AS.

COLLABMEDIANET

Di sisi domestik, meskipun sektor manufaktur Indonesia mencatatkan kinerja ekspansif pada Desember 2025, laju pertumbuhannya melambat. S&P Global mencatat Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Indonesia berada di angka 51,2 pada Desember, turun dari 53,3 di bulan sebelumnya. Angka di atas 50 memang menunjukkan ekspansi, namun perlambatan ini mengindikasikan bahwa momentum pertumbuhan ekonomi internal perlu dicermati lebih lanjut di tengah gempuran sentimen negatif dari luar negeri. Tekanan terhadap Rupiah ini merupakan cerminan dari kompleksitas dinamika ekonomi global dan domestik yang saling berkaitan, menuntut kewaspadaan dari para pelaku pasar.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar