Cerita.co.id – Kecelakaan beruntun yang melibatkan sebuah mobil listrik merek BYD di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, mendadak menjadi sorotan publik. Insiden tragis yang terjadi pada Jumat sore tersebut tidak hanya mengakibatkan kerusakan kendaraan secara masif, tetapi juga menyebabkan seorang pengemudi ojek online (ojol) menjadi korban.
Peristiwa mencekam ini terjadi sekitar pukul 16.48 WIB di Jalan Panglima Polim, Kebayoran Baru. Berdasarkan keterangan dari pihak kepolisian, kecelakaan bermula saat mobil BYD yang dikendarai oleh seorang pria berinisial S (46) melaju dari arah selatan menuju utara. Namun, akibat kurangnya konsentrasi dan kewaspadaan, kendaraan tersebut kehilangan kendali di tengah perjalanan.
Kasi Laka Subdit Gakkum Ditlantas Polda Metro Jaya, Kompol Kharisma Arbita Bangsa, menjelaskan bahwa mobil tersebut awalnya menabrak sebuah Honda Brio yang melaju searah di depannya. Tak berhenti di situ, mobil listrik tersebut oleng ke arah kiri hingga menghantam sepeda motor Honda Beat yang dikendarai oleh pengemudi ojol berinisial HS (56). Setelah menabrak motor, mobil tersebut juga menghantam sebuah mobil Wuling yang sedang berhenti di pinggir jalan.

Related Post
Situasi semakin kacau ketika kendaraan tersebut naik ke trotoar dan menabrak dua mobil lainnya yang sedang terparkir di depan Hotel Amaris, yakni sebuah Mobilio dan Toyota Navi. "Karena kurang hati-hati dan konsentrasi, pengemudi menabrak kendaraan di depannya, lalu oleng ke kiri dan menabrak beberapa kendaraan lain hingga naik ke trotoar," ujar Kompol Kharisma dalam keterangannya.
Pihak kepolisian telah melakukan serangkaian pemeriksaan terhadap pengemudi berinisial S. Berdasarkan hasil tes urine, pengemudi dinyatakan negatif dari pengaruh alkohol maupun narkoba. AKBP Muhammad Adiel Aristo, Kasubdit Gakkum Ditlantas Polda Metro Jaya, menyebutkan bahwa pengemudi diduga mengalami kepanikan hebat setelah menyenggol kendaraan di sampingnya, sehingga ia membanting setir secara mendadak.
Insiden ini menjadi pengingat keras bagi seluruh pengguna jalan mengenai bahaya melakukan manuver banting setir secara spontan saat panik. Pakar keselamatan berkendara, Sony Susmana selaku Director Training Safety Defensive Consultant (SDCI), menegaskan bahwa tindakan membanting setir untuk menghindari tabrakan justru sangat berisiko.
Menurut Sony, kemampuan menjaga keseimbangan kendaraan saat manuver darurat sangat bergantung pada keterampilan, kondisi fisik, dan mental pengemudi. Alih-alih menghindari kecelakaan, tindakan reaktif yang tidak terukur justru sering kali memicu kecelakaan baru, seperti mobil yang melintir atau keluar dari jalur.
Ia menyarankan agar pengemudi lebih mengutamakan tindakan proaktif dengan menjaga jarak aman dengan kendaraan di depan, daripada hanya mengandalkan keterampilan reaktif saat situasi darurat. Hal ini sejalan dengan penelitian dari Driver Research Institute yang menyebutkan bahwa dalam kondisi panik, otak manusia hanya memiliki waktu reaksi yang sangat singkat, yakni sekitar 1 hingga 2,5 detik, yang sering kali tidak cukup untuk mengoordinasikan antara pengereman dan kemudi secara tepat.








Tinggalkan komentar