Cerita.co.id – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) baru-baru ini mengungkap faktor-faktor kunci di balik proyeksi kenaikan anggaran subsidi energi dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027. Angka yang fantastis, mencapai Rp272,9 triliun, ini menunjukkan peningkatan signifikan sekitar 20,1 persen dibandingkan perkiraan subsidi energi tahun 2026 yang sebesar Rp227,25 triliun.
Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM, Ahmad Erani Yustika, menjelaskan bahwa besaran subsidi energi bukanlah hasil dari satu variabel tunggal. Salah satu penentu utama adalah fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. "Nilai tukar sangat mempengaruhi karena asumsi nilai tukarnya juga berdampak pada keseluruhan perhitungan," ujar Erani, seperti dilansir Cerita.co.id.
Selain nilai tukar, harga minyak dunia yang direfleksikan dalam asumsi Indonesia Crude Price (ICP) juga memegang peranan vital dalam menentukan besarnya alokasi subsidi. Erani menambahkan bahwa kuota penyaluran energi bersubsidi juga akan menjadi faktor penentu penting. Oleh karena itu, angka subsidi yang tercantum dalam RAPBN 2027 masih bersifat dinamis dan belum final.

Related Post
"Nanti kalau sudah betul-betul diketok pada bulan September atau Oktober kita bisa ini ya. Kan kalau soal subsidi itu kan tergantung dari kuotanya nanti, tergantung dengan harga minyak internasional, ICP-nya, ada beberapa variabel lain yang itu bisa mempengaruhi besar kecilnya atau bertambah berkurangnya subsidi," jelasnya.
Dalam RAPBN 2027, subsidi energi akan dialokasikan untuk tiga komoditas strategis. Rinciannya, Bahan Bakar Minyak (BBM) akan menerima Rp28,7 triliun, Liquefied Petroleum Gas (LPG) tabung 3 kilogram sebesar Rp114,1 triliun, dan subsidi listrik mencapai Rp130,1 triliun. Pemerintah terus berupaya mengelola alokasi ini secara cermat demi menjaga stabilitas energi nasional.







Tinggalkan komentar