Cerita.co.id – Bank Indonesia (BI) tengah mengambil langkah strategis untuk memperkuat fondasi ekonomi domestik melalui penyesuaian instrumen moneter. Bank sentral berencana untuk terus menekan tingkat imbal hasil (yield) serta mengurangi nilai outstanding Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Kebijakan ini dirancang khusus untuk memperlebar ruang likuiditas di sektor perbankan, sehingga dana yang tersedia dapat tersalurkan secara lebih optimal ke sektor riil guna memacu pertumbuhan ekonomi nasional.
Dalam rapat kerja yang digelar bersama Komisi XI DPR pada Senin (28/9/2026), Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, memaparkan bahwa penyesuaian ini merupakan bagian dari arah bauran kebijakan moneter yang lebih luas. Fokus utamanya adalah memastikan ekspansi likuiditas nasional berjalan secara efektif dan tepat sasaran.
Destry menjelaskan bahwa tren penurunan imbal hasil SRBI sudah mulai terlihat secara nyata. Sebagai gambaran, imbal hasil SRBI untuk tenor 12 bulan saat ini telah menyentuh level 6,76 persen. Angka ini menunjukkan penurunan yang cukup signifikan jika dibandingkan dengan titik tertingginya yang sempat berada di level 7,74 persen. Penurunan yield ini diharapkan dapat menarik minat pelaku pasar untuk mengalihkan dana mereka ke instrumen lain yang lebih produktif bagi ekonomi.

Related Post
Tidak hanya dari sisi imbal hasil, volume outstanding SRBI juga menunjukkan tren penurunan yang konsisten. Berdasarkan data per 23 September 2026, nilai outstanding SRBI tercatat sebesar Rp1.013,5 triliun. Jika menilik ke belakang, angka ini mengalami penurunan dari posisi puncaknya yang sempat menyentuh Rp1.096 triliun. Meskipun demikian, jika dibandingkan dengan posisi awal tahun pada Januari 2026 yang berada di angka Rp754,76 triliun, volume saat ini memang masih menunjukkan angka yang lebih tinggi secara kumulatif.
Menurut Destry, berkurangnya porsi simpanan perbankan di instrumen SRBI secara otomatis akan memberikan napas lebih lega bagi perbankan dalam mengelola likuiditas. Dengan berkurangnya dana yang "parkir" di instrumen bank sentral, perbankan memiliki kapasitas lebih besar untuk menyalurkan kredit kepada masyarakat dan pelaku usaha.
Indikator keberhasilan kebijakan ini juga terlihat dari pergerakan suku bunga pasar uang antarbank overnight (IndONIA). Suku bunga tersebut tercatat melandai dari level tertinggi 6,61 persen pada Juni 2026 menjadi 5,91 persen saat ini. Hal ini menjadi sinyal positif bahwa kondisi likuiditas di pasar uang masih dalam kondisi yang terkendali dan sehat.
Selain melalui pengelolaan SRBI, Bank Indonesia juga tidak tinggal diam dalam menyuntikkan likuiditas ke pasar. Melalui instrumen foreign exchange (FX) swap dan repo, BI telah menyalurkan tambahan likuiditas yang sangat besar. Sepanjang tahun 2026, akumulasi injeksi melalui kedua instrumen tersebut telah mencapai angka Rp387 triliun. Langkah agresif ini diambil untuk memastikan bahwa roda ekonomi tetap berputar kencang di tengah dinamika global yang tidak menentu. Melansir informasi dari cerita.co.id, kebijakan ini diharapkan menjadi motor penggerak utama bagi stabilitas ekonomi Indonesia ke depan.








Tinggalkan komentar