Rupiah Tertekan Gejolak Timur Tengah

Rupiah Tertekan Gejolak Timur Tengah

Cerita.co.id melaporkan, nilai tukar rupiah harus mengakui keperkasaan dolar Amerika Serikat pada penutupan perdagangan Selasa (7/4/2026). Mata uang Garuda tersebut ditutup melemah signifikan, merosot 70 poin atau sekitar 0,41 persen, hingga mencapai level Rp17.105 per dolar AS. Pelemahan ini tak lepas dari bayang-bayang ketegangan geopolitik yang memanas di kawasan Timur Tengah, menciptakan gelombang kekhawatiran di pasar keuangan global.

Menurut pengamat pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, sentimen negatif ini didorong oleh sikap investor global yang bersiap menghadapi potensi eskalasi konflik di Timur Tengah. Pemicu utamanya adalah tenggat waktu yang ditetapkan oleh Presiden AS Donald Trump bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Ancaman ini, jika tidak dipatuhi, berpotensi memicu konsekuensi yang lebih luas dan mengganggu stabilitas regional.

Rupiah Tertekan Gejolak Timur Tengah
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Ibrahim menambahkan dalam risetnya, gangguan terhadap lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz dalam beberapa pekan terakhir telah memperketat ekspektasi pasokan minyak global dan secara signifikan meningkatkan premi risiko di seluruh pasar. Sementara itu, upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan tampaknya menemui jalan buntu. Iran menolak proposal yang didukung AS, yang mengusulkan gencatan senjata 45 hari dan pembukaan kembali selat secara bertahap, bersamaan dengan negosiasi pencabutan sanksi dan rekonstruksi.

COLLABMEDIANET

Teheran bersikukuh menolak proposal tersebut, dan malah menuntut penghentian permusuhan secara permanen, jaminan yang mengikat terhadap serangan di masa mendatang, pencabutan sanksi, serta kompensasi atas kerusakan yang terjadi. Menanggapi penolakan ini, Presiden Trump menegaskan kembali bahwa tenggat waktu hari Selasa adalah mutlak. Ia memperingatkan bahwa kegagalan untuk mematuhi dapat memicu serangan AS terhadap infrastruktur penting Iran, termasuk pembangkit listrik dan jembatan. Trump bahkan secara tegas menyatakan bahwa Iran dapat "disingkirkan" dengan cepat, menggarisbawahi meningkatnya risiko eskalasi konflik yang lebih luas.

Konfrontasi yang terus memanas ini telah mengganggu aliran energi global, mendorong harga minyak melonjak tinggi, dan memicu kekhawatiran inflasi yang lebih besar. Situasi ini semakin mempersulit prospek kebijakan moneter di berbagai negara. Di sisi lain, investor juga tengah menanti rilis data inflasi penting dari Amerika Serikat pada hari Jumat, yang diharapkan dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve di masa mendatang. Kombinasi faktor geopolitik dan data ekonomi ini menciptakan lanskap pasar yang penuh ketidakpastian.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar