Cerita.co.id melaporkan bahwa nilai tukar rupiah menunjukkan performa impresif pada penutupan perdagangan Rabu, 29 Juli 2026, berhasil menguat terhadap dolar Amerika Serikat. Mata uang kebanggaan Indonesia ini ditutup pada level Rp18.073 per dolar AS, mencatatkan kenaikan yang menarik perhatian pelaku pasar di tengah gejolak global yang terus berlangsung.
Penguatan rupiah tercatat sebesar 10 poin, atau sekitar 0,06 persen, sebuah capaian yang patut diperhitungkan. Menurut analisis Ibrahim Assuaibi, seorang pakar pasar uang dan komoditas, sentimen pendorong utama datang dari faktor eksternal yang kompleks. Pasar global saat ini memusatkan perhatian pada perkembangan situasi di Timur Tengah, yang kembali menunjukkan tanda-tanda peningkatan ketegangan.
Ibrahim menguraikan bahwa salah satu pemicu utama adalah insiden peluncuran rudal balistik oleh Iran yang menargetkan pasukan AS di wilayah tersebut. Meskipun Komando Pusat AS mengonfirmasi bahwa semua rudal berhasil diintersep, serangan ini menandai babak baru eskalasi setelah periode relatif tenang. Kekhawatiran akan bubarnya jeda diplomatik yang sempat tercipta kini semakin menguat di kalangan investor.

Related Post
Sebelumnya, harapan akan kemajuan diplomasi sempat membumbung tinggi menyusul pertemuan antara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump di Washington. Trump bahkan sempat mengisyaratkan adanya "peluang besar" untuk dialog dengan Iran. Namun, Teheran dengan tegas membantah adanya niat untuk terlibat dalam negosiasi atau gencatan senjata, mendinginkan kembali optimisme pasar.
Di sisi lain, upaya untuk membuka kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran vital, juga menemui jalan buntu. Iran menolak proposal yang diajukan oleh Oman mengenai pembentukan kerangka kerja bersama untuk mengatur lalu lintas pelayaran di perairan strategis tersebut. Penolakan ini menambah lapisan ketidakpastian geopolitik, namun rupiah tetap menunjukkan ketangguhannya di tengah badai sentimen negatif ini.









Tinggalkan komentar