Cerita.co.id melaporkan, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, secara aktif mendorong negara-negara anggota BRICS untuk membuka akses pasar yang konkret bagi Indonesia, termasuk para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Langkah ini bertujuan agar Indonesia dapat secara optimal memanfaatkan potensi pasar raksasa yang mencakup hampir separuh populasi dunia dan sekitar 40 persen perekonomian global.
Dorongan strategis tersebut disampaikan Anindya saat menghadiri BRICS Business Forum yang berlangsung di New Delhi, India. Dalam forum bergengsi itu, ia membawa serta visi strategis Presiden Prabowo Subianto yang berfokus pada hilirisasi industri, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta kemandirian ekonomi nasional.
Di hadapan sejumlah pemimpin negara berpengaruh, termasuk Perdana Menteri India Narendra Modi, Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa, dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian, Anindya menegaskan posisi tawar Indonesia dalam kerangka kerja sama BRICS. Ia menegaskan bahwa Indonesia tidak hanya ingin menjadi target pasar semata, melainkan bertekad untuk berperan aktif dalam merumuskan arah kebijakan serta arsitektur kerja sama ekonomi di dalam aliansi BRICS.

Related Post
Dalam pidatonya pada sesi pengembangan perdagangan dan jasa intra-BRICS, Anindya mengungkapkan kebanggaannya atas bergabungnya Indonesia ke dalam aliansi strategis ini di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo. Keberadaan wadah resmi kepengurusan di tingkat dunia usaha, yakni BRICS Business Council, kini semakin memperkuat posisi tawar Indonesia dalam memacu arus perdagangan, investasi, industri, penguasaan teknologi, hingga sektor jasa antarnegara anggota.
"Kami sangat senang dan merasa terhormat bahwa Indonesia telah bergabung dengan keluarga BRICS berkat Presiden Prabowo. Indonesia sekarang memiliki chapter yang sangat aktif dalam BRICS Business Council," ujar Anindya dalam keterangan resmi yang diterima Cerita.co.id.
Anindya menggarisbawahi bahwa skala ekonomi BRICS yang mencakup 40 persen pangsa global melahirkan kekuatan nyata untuk mengarahkan peta ekonomi masa depan. Besarnya pengaruh tersebut dibarengi dengan tanggung jawab moral agar pemerataan hasil pertumbuhan dapat dinikmati oleh masyarakat luas di negara-negara anggotanya.
"Ketika kita berbicara tentang BRICS, kita berbicara tentang hampir separuh umat manusia dan sekitar 40 persen perekonomian dunia. Kita memiliki kekuatan ekonomi untuk membentuk masa depan sekaligus tanggung jawab untuk memastikan lebih banyak orang dapat mengambil bagian di dalamnya," pungkas Anindya.









Tinggalkan komentar