Cerita.co.id – Sebuah fakta mengejutkan terkuak mengenai harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamax (RON 92) dan Pertalite. Meskipun saat ini Pertamax dijual Rp 16.250 per liter, angka tersebut ternyata masih lebih rendah dibanding harga keekonomian Pertalite jika tanpa subsidi. Namun, ada rahasia di balik harga Pertamax yang sebenarnya jauh lebih tinggi.
Publik sempat dihebohkan oleh sebuah video viral di media sosial yang menunjukkan struk pembelian Pertalite pada 11 Juni 2026. Dalam struk tersebut, meskipun konsumen membayar Rp 10.000 per liter, tertera harga asli atau keekonomian yang mencapai Rp 18.040 per liter. Ini berarti pemerintah menanggung subsidi sebesar Rp 8.040 untuk setiap liter Pertalite yang dikonsumsi masyarakat.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth M V Dumatubun, membenarkan angka subsidi tersebut kepada Cerita.co.id pada Selasa (16/6/2026). "Benar besaran (Rp) 8.000-an adalah beban subsidi yang ditanggung pemerintah," ujarnya. Roberth menegaskan bahwa kebijakan subsidi BBM sepenuhnya merupakan kewenangan pemerintah, dan Pertamina hanya bertindak sebagai operator yang patuh menjalankan penugasan tersebut.

Related Post
Di sisi lain, Pertamax (RON 92) yang tidak disubsidi kini dibanderol Rp 16.250 per liter, setelah sebelumnya Rp 12.300. Angka ini memang terlihat lebih murah dibandingkan harga keekonomian Pertalite tanpa subsidi. Namun, Roberth menjelaskan bahwa harga Pertamax saat ini belum sepenuhnya mencerminkan harga keekonomiannya.
Lantas, berapa harga asli Pertamax di pasar? VP Commercial & Shipping Business Development Pertamina Patra Niaga, Sigit Setiawan, mengungkapkan bahwa harga riil Pertamax RON 92 di pasar internasional sudah menembus angka Rp 20.000 hingga Rp 21.000 per liter. Kenaikan ini dipicu oleh kondisi geopolitik global yang berimbas pada harga minyak dunia.
"Teman-teman bisa melihat di market internasional di tetangga sebelah negara lain itu RON 91, 92 itu di Rp 20.000, Rp 21.000," kata Sigit beberapa waktu lalu. Ia menambahkan bahwa penyesuaian harga diperlukan untuk memastikan ketersediaan pasokan di pasar domestik.
Meski harga Pertamax telah disesuaikan menjadi Rp 16.250 per liter per 10 Juni 2026, Pertamina mengakui bahwa kenaikan ini baru memenuhi sekitar 50% dari beban keekonomian yang seharusnya. "Apabila Pertamax mengacu harga keekonomian yang seharusnya, maka akan lebih mahal dari Pertalite tanpa subsidi," pungkas Roberth, menegaskan bahwa secara kualitas dan nilai ekonomi, Pertamax seharusnya jauh di atas Pertalite.








Tinggalkan komentar