Cerita.co.id melaporkan bahwa nilai tukar rupiah harus mengakui keunggulan dolar Amerika Serikat pada penutupan perdagangan Kamis, 5 Februari 2026. Mata uang Garuda ditutup melemah signifikan, kehilangan 65 poin atau sekitar 0,39 persen, sehingga berada di level Rp16.842 per dolar AS. Pelemahan ini sebagian besar dipicu oleh sentimen eksternal yang kompleks, terutama terkait dinamika hubungan antara Amerika Serikat dan Iran.
Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa kekhawatiran pasar bermula dari laporan awal yang mengindikasikan kemungkinan kegagalan pembicaraan penting antara Washington dan Teheran yang dijadwalkan pada hari Jumat. Meskipun kemudian ada klarifikasi dari kedua belah pihak bahwa dialog akan tetap berlangsung, ketidakpastian awal sudah cukup untuk menekan laju rupiah.

Permasalahan utama terletak pada perbedaan pandangan yang mendalam mengenai agenda pembahasan. Iran bersedia membahas program nuklirnya, termasuk isu pengayaan uranium, dengan negara-negara Barat. Namun, Amerika Serikat memiliki tuntutan yang lebih luas, ingin memasukkan pembahasan mengenai rudal balistik Iran, dukungan terhadap kelompok proksi bersenjata di Timur Tengah, serta catatan hak asasi manusia di negara tersebut.

Related Post
Kekhawatiran pasar semakin diperparah oleh potensi ancaman Presiden AS Donald Trump untuk melancarkan serangan terhadap Iran. Skenario ini dapat memicu konfrontasi yang lebih luas di kawasan kaya minyak tersebut, berpotensi mengganggu produksi minyak Iran dan bahkan ekspor dari produsen Teluk lainnya. Implikasi geopolitik semacam ini secara langsung memengaruhi stabilitas ekonomi global dan, pada gilirannya, nilai tukar mata uang.
Di sisi lain, ada sedikit angin segar dari hubungan AS-China. Presiden Donald Trump mengumumkan bahwa ia telah melakukan percakapan telepon yang "sangat baik" dengan mitranya dari China, Presiden Xi Jinping. Trump bahkan mengungkapkan rencana kunjungannya ke China pada bulan April. Dalam percakapan tersebut, kedua pemimpin membahas berbagai isu strategis, termasuk perdagangan, militer, status Taiwan, konflik Rusia-Ukraina, situasi Iran, serta pembelian minyak dan gas China dari Amerika Serikat. Dialog positif ini sedikit meredakan ketegangan global, namun belum cukup untuk sepenuhnya menopang rupiah dari tekanan eksternal lainnya.









Tinggalkan komentar