Cerita.co.id, Jakarta – Rupiah sempat menunjukkan sedikit perlawanan pada perdagangan Jumat, 23 Januari 2026, dengan bertengger di level Rp16.820 per dolar AS. Namun, penguatan tipis ini tak lantas membuat Rupiah aman, mengingat posisinya yang masih rentan di ambang batas psikologis Rp17.000 per dolar AS.
Hans Kwee, praktisi pasar modal sekaligus Co-Founder PasarDana, mengungkapkan bahwa tensi geopolitik global yang kian memanas menjadi biang keladi tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia. Situasi ini mendorong investor asing untuk menarik modal mereka dan beralih ke aset yang dianggap lebih aman, yaitu dolar AS.

"Karena emerging market dianggap lebih berisiko, dana investor kembali ke USD. Akibatnya, Rupiah kita melemah," jelas Hans Kwee, Sabtu (24/1/2026).

Related Post
Menyikapi fluktuasi nilai tukar dan pasar keuangan yang tak menentu, Hans Kwee menyarankan investor untuk lebih cermat dalam merancang strategi investasi. Ia merekomendasikan untuk sementara waktu beralih ke instrumen yang lebih defensif, seperti pasar uang atau obligasi, guna menjaga stabilitas portofolio.
Namun, bagi para investor saham, volatilitas ini justru menjadi peluang untuk mengakumulasi aset. Hans menekankan pentingnya fokus pada perusahaan dengan fundamental yang solid dan potensi pertumbuhan yang tinggi. Ia juga mengingatkan untuk tidak lagi terpaku pada harga yang sangat murah (undervalued), mengingat kondisi pasar yang sedang bullish.
"Kita harus membeli perusahaan yang potensi growth-nya tinggi, tapi pada fair price, harga yang wajar. Dalam market yang bull seperti ini, sulit menemukan saham undervalue dengan diskon tinggi. Jadi, belilah di harga wajar dengan potensi pertumbuhan yang tinggi," pungkasnya.









Tinggalkan komentar