Cerita.co.id, Jakarta – Sebuah pergeseran signifikan tengah terjadi di pasar otomotif global. Data terbaru menunjukkan bahwa harga rata-rata mobil listrik (EV) diproyeksikan akan lebih rendah dari mobil hybrid pada tahun 2025. Ini menandai era baru di mana kendaraan ramah lingkungan tidak lagi identik dengan harga premium, melainkan pilihan yang semakin terjangkau.
Analisis dari Mobility Global, yang dikutip oleh Nikkei Asia, mengungkapkan tren menarik. Tahun lalu, harga rata-rata EV secara global berada di kisaran US$ 37.000 atau sekitar Rp 660 jutaan, sebuah penurunan 9% dibandingkan tahun 2020. Sebaliknya, dalam periode yang sama, harga rata-rata mobil hybrid justru melonjak 16% menjadi sekitar US$ 39.000.
Dominasi China Dorong Penurunan Harga

Related Post
Penurunan harga EV ini tak lepas dari peran krusial produsen Tiongkok. Ekspor mobil listrik dari Tiongkok meroket tajam, dari kurang dari 100.000 unit pada 2020 menjadi 1,64 juta unit tahun lalu. Lonjakan ini membanjiri pasar global dengan pilihan EV yang lebih terjangkau, memicu persaingan harga yang ketat.
Di sejumlah pasar berkembang, termasuk Asia Tenggara dan Amerika Selatan, fenomena ini sudah terlihat jelas. Thailand, misalnya, kini menyaksikan merek-merek Tiongkok menguasai hampir 30% penjualan mobil baru, menawarkan EV dengan harga yang bahkan lebih kompetitif dari rata-rata mobil hybrid.
Harga Baterai Terus Melandai
Faktor krusial lainnya adalah penurunan harga baterai lithium-ion. Antara 2020 hingga 2025, biaya baterai diperkirakan turun sekitar 37%. Mengingat baterai menyumbang sekitar 30-40% dari total biaya produksi sebuah mobil listrik, penurunan ini sangat berpengaruh pada harga jual akhir.
BloombergNEF menyoroti kapasitas produksi baterai berlebih di Tiongkok, yang menguasai sekitar 80% pasar baterai EV dunia, sebagai pendorong utama penurunan harga. Selain itu, adopsi baterai lithium iron phosphate (LFP) yang tidak menggunakan kobalt dan biayanya lebih stabil, turut berkontribusi. Teknologi LFP yang terus berkembang bahkan menarik minat raksasa otomotif seperti Renault dan Volkswagen untuk mengadopsinya.
Kontras dengan Mobil Bensin
Tren ini berbanding terbalik dengan mobil bermesin pembakaran internal (ICE) yang harganya justru sedikit naik dalam lima tahun terakhir. Sementara itu, plug-in hybrid juga mengalami penurunan harga signifikan, kemungkinan besar berkat teknologi baterai yang semakin murah.
Dengan harga yang semakin bersaing, mobil listrik kini bukan lagi sekadar pilihan ramah lingkungan, melainkan alternatif ekonomis yang menarik. Kenaikan harga minyak global akibat konflik di Timur Tengah semakin memperkuat daya tarik EV, menawarkan biaya operasional yang lebih rendah bagi konsumen.
Ini menunjukkan bahwa masa depan kendaraan listrik tidak hanya tentang keberlanjutan atau efisiensi bahan bakar, tetapi juga tentang aksesibilitas harga yang akan menjadikannya pilihan utama bagi lebih banyak konsumen di seluruh dunia.









Tinggalkan komentar