Cerita.co.id – Sebuah insiden tragis yang terekam dalam video dan viral di media sosial mengguncang Kota Kotamobagu, Sulawesi Utara, Minggu (9/8) lalu. Gelaran balap drag race yang seharusnya menjadi tontonan seru, justru berujung petaka ketika sebuah mobil kehilangan kendali dan menabrak kerumunan penonton, menewaskan delapan orang dan melukai sembilan lainnya. Peristiwa memilukan ini sontak memicu sorotan tajam terhadap standar keselamatan acara balap yang diselenggarakan.
Kecelakaan maut itu terjadi di Jalan AP Mokoginta, Kecamatan Kotamobagu Timur, saat berlangsungnya Turnamen Tidar Drag Race Championship. Mobil balap yang dikemudikan oleh dragster Tian Ngantung dari Tim Mc Joe, dalam kategori kelas FFA (Free For All), dilaporkan mengalami masalah serius saat mendekati titik finis sirkuit. Mobil tersebut tiba-tiba oleng ke sisi kiri lintasan, menabrak pembatas sirkuit yang tampak seadanya, lalu menghantam para penonton yang berkerumun di baliknya.
Plt Kasi Humas Polres Kotamobagu AKP Joko Setiyono, seperti diberitakan detikSulsel, Senin (10/8/2026), membenarkan insiden tersebut. "Ketika mobil yang dikendarai oleng ke sisi kiri sirkuit, mobil menabrak warga yang menonton di pagar pembatas sebelah kiri titik finis area sirkuit," jelasnya. Total ada 17 orang yang menjadi korban dalam peristiwa ini, dengan delapan di antaranya meninggal dunia di lokasi dan sembilan lainnya mengalami luka-luka serta harus dilarikan ke fasilitas medis terdekat.

Related Post
Praktisi keselamatan berkendara yang juga anggota Kebijakan dan Advokasi Berkendara Ikatan Motor Indonesia (IMI), Erreza Hardian, kepada Cerita.co.id, mengungkapkan keprihatinannya dan mempertanyakan aspek keselamatan acara. "Drag race itu jelas melibatkan kecepatan tinggi, kemudian ada penonton yang rentan berada di jalan, dan sepertinya itu jalan aspal yang mulus serta lurus. Kendaraan yang digunakan pun jelas sudah dimodifikasi untuk performa ekstrem," ujarnya. Erreza menambahkan bahwa daya tarik mobil balap modifikasi seringkali membuat penonton abai terhadap potensi bahaya, berasumsi penyelenggara dan tim sudah bertindak profesional, padahal belum tentu demikian.
Lebih lanjut, Reza mempertanyakan profesionalisme dari pihak penyelenggara dan tim balap itu sendiri. Menurutnya, tim balap seharusnya tidak hanya fokus pada prestasi dan teknis kendaraan, tetapi juga wajib melihat perspektif bahaya yang mungkin timbul, termasuk kondisi lintasan yang mempengaruhi traksi, pengereman, kemudi, dan suspensi. "Harusnya ini yang menjadi perhatian juga para peserta. Beban mereka tidak begitu besar, maka prinsip ini sebaiknya menjadi pola berpikir baru buat tim balapnya, karena ini ada situasi yang berbeda dari biasa mereka melakukan kompetisi besar misalnya," tegas Reza. Padahal, ia menekankan, perlombaan balap semacam ini seharusnya memiliki aturan ketat, lengkap dengan diklat, ujian sertifikasi, baik untuk personel maupun perusahaan penyelenggara, serta sanksi tegas bagi para pelanggar. Insiden tragis ini menjadi pengingat pahit akan pentingnya kepatuhan terhadap standar keselamatan dalam setiap ajang balap.








Tinggalkan komentar