Purbaya Patahkan Dominasi

Purbaya Patahkan Dominasi

Cerita.co.id melaporkan, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menunjukkan sikap tegas terkait penilaian utang negara, menyatakan tidak risau dengan rapor dari lembaga pemeringkat global seperti S&P Global Ratings atau Moody’s. Pernyataan ini muncul seiring langkah pemerintah Indonesia yang kian gencar memperluas basis pembiayaan ke pasar modal China melalui instrumen Panda Bond. Ini adalah strategi diversifikasi yang ambisius. Oleh Anggie Ariesta, Jurnalis Cerita.co.id – Minggu, 28 Juni 2026 | 15:00 WIB

Purbaya Patahkan Dominasi
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Menurut Purbaya, penetrasi ke pasar finansial Beijing dan Shanghai secara otomatis akan mengadopsi sistem penilaian dari agensi pemeringkat domestik China sendiri. Langkah ini bukan sekadar diversifikasi, melainkan juga mengemban misi strategis untuk melepaskan diri dari ketergantungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) terhadap pasar obligasi global konvensional yang selama ini didominasi oleh para pemegang modal berbasis mata uang dolar Amerika Serikat. "Kalau pemeringkatan itu keluar pun, yang sana, ya saya bisa enggak peduli. Kenapa saya harus menerbitkan obligasi dolar lagi untuk sementara?" tegas Purbaya dalam sebuah media briefing pada Jumat (26/6/2026).

Purbaya tak segan melontarkan kritik terhadap metodologi penilaian lembaga pemeringkat internasional yang dinilainya kaku dan kerap menutup mata dari fakta kemajuan ekonomi riil di Indonesia. "Dugaan saya ya, bukan S&P saja. Mereka sudah mempunyai mindset tertentu yang enggak mengakibatkan mereka melihat reality di lapangan. Saya enggak bisa ubah," ungkapnya. Ia menambahkan, indikator fundamental yang kokoh, rasio kepatuhan utang yang sehat, serta postur anggaran yang terjaga baik seharusnya menjadi instrumen evaluasi utama yang lebih objektif.

COLLABMEDIANET

Atas dasar perbedaan persepsi dan pendekatan itulah, pemerintah Indonesia memilih beralih menggaet ekosistem pasar keuangan China. Pasar ini dinilai memiliki parameter pendekatan risiko yang lebih adil dan adaptif. Karakteristik investor di Negeri Tirai Bambu tersebut terbukti tidak terlalu dipengaruhi oleh predikat dari S&P maupun Moody’s. Sebaliknya, mereka lebih mempercayai sertifikasi peringkat dari lembaga pemeringkat lokal China sebelum mengoleksi aset Panda Bond. "Investor di China tidak terlalu dipengaruhi oleh rating dari S&P, Moody’s, dan lain-lain. Mereka akan melihat pemeringkat dari China seperti apa. Panda Bond diperingkat oleh lembaga pemeringkat dari China," pungkas Purbaya.

Langkah strategis ini menegaskan komitmen Indonesia untuk mencari jalur pembiayaan yang lebih mandiri dan sesuai dengan kondisi ekonomi domestik, mengurangi ketergantungan pada standar penilaian global yang dianggap bias.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar