Cerita.co.id, Jakarta – Kenaikan signifikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax (RON 92) menjadi Rp 16.250 per liter diprediksi akan memicu gelombang perpindahan konsumen ke Pertalite. Pakar energi dari Universitas Padjadjaran (Unpad), Yayan Satyakti, memperkirakan setidaknya 10 persen pengguna Pertamax akan segera beralih ke BBM yang lebih terjangkau tersebut.
Prediksi Yayan ini bukan tanpa dasar. Ia merujuk pada pengalaman April 2022, di mana kenaikan harga Pertamax sebesar 39 persen kala itu menyebabkan sekitar satu dari delapan pembeli beralih ke Pertalite. Menurutnya, konsumen tidak lantas mengurangi mobilitas, melainkan mencari alternatif bahan bakar yang lebih ekonomis untuk tetap beraktivitas.
Dengan kenaikan ini, harga Pertamax yang sebelumnya Rp 12.300 per liter kini mencapai Rp 16.250. Sementara itu, harga Pertalite (RON 90) tetap stabil di angka Rp 10.000 per liter. Kondisi ini menciptakan selisih harga sebesar Rp 6.250 per liter, sebuah jurang perbedaan yang disebut-sebut sebagai yang terlebar dalam sejarah.

Related Post
Meski demikian, Yayan memastikan bahwa kuota Pertalite masih memadai untuk menampung potensi perpindahan konsumen ini. Ia memperkirakan hanya sekitar sepertiga dari sisa kuota yang tersedia akan terpakai, sehingga tidak akan menimbulkan kelangkaan.
Analisis Yayan lebih jauh membedah dampak kenaikan harga Pertamax berdasarkan sistem pemeringkatan kesejahteraan masyarakat (Desil 1-10) yang digunakan pemerintah. Untuk rumah tangga Desil 1, kategori termiskin, dampak kenaikan ini relatif minim karena mereka hampir tidak menggunakan Pertamax. Sebaliknya, kelompok menengah (Desil 5-7) diperkirakan sebagian besar akan beralih ke Pertalite untuk menekan pengeluaran.
Sementara itu, rumah tangga menengah atas (Desil 8-9), yang merupakan pengguna mobil reguler, akan merasakan peningkatan biaya operasional bulanan yang signifikan. Sebagai contoh, pemilik mobil yang mengisi 100 liter Pertamax per bulan harus menambah sekitar Rp 395.000, sedangkan pengendara motor dengan konsumsi 30 liter per bulan akan mengeluarkan tambahan sekitar Rp 119.000.
Beban terbesar justru akan dipikul oleh kelompok rumah tangga terkaya atau Desil 10. Hal ini disebabkan armada perusahaan, kendaraan operasional perkebunan, dan tambang dilarang menggunakan BBM bersubsidi. "Singkatnya, sekitar separuh dari total beban kenaikan ini ditanggung oleh 20 persen rumah tangga terkaya. Kenaikan Pertamax bekerja seperti pajak yang lebih banyak menyasar orang mampu," jelas Yayan.
Menanggapi potensi migrasi ini, PT Pertamina Patra Niaga melalui Corporate Secretary-nya, Roberth M.V. Dumatubun, memastikan ketersediaan Pertalite tidak akan terganggu. Distribusi BBM bersubsidi ini di seluruh jaringan SPBU diklaim tetap berjalan normal sesuai penugasan pemerintah. "Kami mengimbau masyarakat untuk bijak menggunakan energi dengan membeli BBM sesuai kebutuhan dan peruntukannya, serta sesuai dengan jenis kendaraan yang digunakan," ujar Roberth.








Tinggalkan komentar