Cerita.co.id mengamati bahwa nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terus menunjukkan pergerakan yang dinamis di tengah gejolak ekonomi global yang penuh ketidakpastian. Meskipun fundamental ekonomi nasional seringkali diklaim tetap kokoh, tekanan yang berkelanjutan pada mata uang Garuda ini memicu berbagai pertanyaan mengenai akar penyebab pelemahan yang terjadi belakangan ini. Menanggapi situasi tersebut, ekonom senior sekaligus mantan Menteri Keuangan RI, Chatib Basri, memberikan pandangan yang menarik dan berbeda, menyoroti bahwa kondisi domestik tidak seburuk yang dibayangkan.
Menurut Chatib Basri, anjloknya nilai tukar rupiah tidak dapat semata-mata dijelaskan oleh faktor-faktor fundamental tradisional seperti kinerja ekspor-impor atau laju pertumbuhan ekonomi. Melalui analisis data secara kausalitas yang mendalam, ia menemukan bahwa faktor persepsi pasar terhadap risiko keuangan negara atau kredibilitas fiskal justru memegang peranan yang jauh lebih dominan. "Yang bisa menjelaskan pelemahan Rupiah, faktor yang paling besar itu adalah risiko dari fiskal, di mana sekitar 23 persen pelemahannya sebetulnya bisa dijelaskan oleh pergerakan Credit Default Swap (CDS)," ungkap Chatib dalam sebuah forum bisnis. Ini menunjukkan bahwa kepercayaan investor terhadap kemampuan negara mengelola utang dan anggaran menjadi kunci.
Lebih lanjut, Chatib Basri menegaskan bahwa kondisi perekonomian domestik Indonesia sejatinya masih dalam keadaan yang baik, bahkan tidak seburuk yang banyak dibayangkan. Indikasi positif ini tercermin jelas dari tingkat konsumsi rumah tangga dan pemerintah yang menunjukkan angka tinggi pada kuartal I 2026. "Jadi situasi di domestik itu tidak seburuk yang dibayangkan. Kenapa tidak seburuk yang dibayangkan? Karena kalau dilihat di kuartal I, household consumption-nya itu masih relatif lumayan, didorong oleh lebaran puasa pada waktu itu," jelasnya. Momentum perayaan keagamaan tersebut turut menjadi pendorong signifikan bagi aktivitas ekonomi di dalam negeri.

Related Post
Pandangan komprehensif ini disampaikan Chatib Basri dalam acara Grab Business Forum yang berlangsung di Shangri-La Hotel, Jakarta, pada Selasa, 9 Juni 2026. Penekanan pada pentingnya kredibilitas fiskal dan persepsi pasar menggarisbawahi bahwa stabilitas mata uang tidak hanya bergantung pada angka-angka makroekonomi semata, melainkan juga pada kepercayaan investor dan pelaku pasar terhadap pengelolaan keuangan negara. Hal ini menjadi pengingat penting bagi pembuat kebijakan untuk terus menjaga disiplin fiskal dan komunikasi yang transparan guna meredam volatilitas dan memperkuat posisi rupiah.
Chatib Basri (Foto: Cerita.co.id)







Tinggalkan komentar