Cerita.co.id – Masa depan mobil murah ramah lingkungan (LCGC) kini di ambang ketidakpastian. Kendaraan yang pernah merajai pasar sebagai pilihan utama keluarga muda dan pembeli mobil pertama ini, kini justru menghadapi tantangan berat dengan penjualan yang terus merosot tajam.
Data wholesales dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan, pada tiga bulan pertama tahun 2026, penjualan LCGC hanya mencapai 28.831 unit. Angka ini mencerminkan penurunan signifikan hingga 29,9 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Fenomena kemerosotan ini sejatinya telah mulai terendus sejak tahun 2024. Setelah sempat melambung tinggi di angka lebih dari 200 ribu unit pada tahun 2023, performa penjualan LCGC terus melemah di tahun-tahun berikutnya.

Related Post
Harga Tak Lagi Murah, Daya Beli Tergerus
Awalnya, LCGC dirancang sebagai solusi mobilitas terjangkau dengan banderol di bawah Rp150 juta. Namun, realitas pasar saat ini menunjukkan banyak model LCGC telah menembus kisaran harga Rp180 juta hingga Rp200 juta. Lonjakan harga ini, dipicu oleh regulasi emisi yang kian ketat, penambahan fitur, serta biaya produksi yang membengkak, secara perlahan mengikis daya tarik "murah" yang menjadi esensi LCGC.
Segmen pembeli baru, yang menjadi target utama LCGC, adalah kelompok yang paling sensitif terhadap kenaikan harga dan suku bunga kredit. Pengamat Otomotif, Yannes Pasaribu, menyoroti penurunan daya beli masyarakat akibat inflasi dan tingginya suku bunga kredit sebagai pemicu utama. "Kenaikan harga segmen terbesar LCGC juga mempengaruhi keputusan pembelian konsumen," imbuhnya.
Kelas Menengah "Turun Kelas"
Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, menjelaskan bahwa kenaikan upah minimum maupun rata-rata gaji masyarakat kelas menengah tidak mampu mengejar laju kenaikan harga unit mobil yang melesat setiap tahunnya. "Pendapatannya itu memang kalau kelas menengah itu, rata-rata setiap tahunnya mungkin naiknya 3,5 persen setiap tahun. Nah tapi kalau kita lihat harga mobil misalkan naiknya 5-7 persen," terang Josua.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Oktober 2024 memperkuat argumen ini, melaporkan bahwa proporsi kelas menengah di Indonesia menyusut menjadi 17,13% dari total populasi, atau sekitar 46,85 juta jiwa. Angka ini terus menurun sejak 2019 yang mencapai 21,45% (57,33 juta jiwa) dan 2021 yang berada di 19,82% (53,83 juta penduduk). Penurunan penjualan LCGC, menurut Josua, adalah imbas langsung dari fenomena "turun kelas" ini.
Gempuran Mobil Listrik dan Pengetatan Kredit
Tak hanya itu, serbuan mobil listrik (EV) dengan harga kompetitif dan skema pajak yang lebih menguntungkan, serta pengetatan kredit dari perusahaan pembiayaan, disinyalir menjadi penyebab utama konsumen mulai mengerem pembelian LCGC.
Ketua I Gaikindo, Jongkie Sugiarto, mengakui bahwa kehadiran mobil listrik murah menjadi tantangan serius bagi segmen LCGC. "Karena sekarang dengan Rp 200 jutaan orang sudah bisa dapat mobil listrik dengan desain bagus dan fitur lengkap," ungkap Jongkie.
Meski demikian, Jongkie meyakini bahwa segmen kendaraan murah masih memiliki potensi besar di Indonesia. Namun, pergeseran paradigma menuju kendaraan elektrifikasi adalah sebuah keniscayaan. "Orang sekarang melihat pilihan. Kalau selisih harganya tipis tapi teknologinya lebih maju, tentu mereka beralih," pungkasnya.
Performa Penjualan LCGC Lima Tahun Terakhir:
- 2021: 146.520 unit
- 2022: 158.206 unit
- 2023: 204.705 unit (Puncak)
- 2024: 176.766 unit
- 2025: 122.686 unit
- 2026 (Jan-Mar): 28.831 unit









Tinggalkan komentar