Cerita.co.id melaporkan, nilai tukar Rupiah menunjukkan performa impresif di penghujung perdagangan hari ini, berhasil menguat signifikan terhadap Dolar Amerika Serikat. Mata uang Garuda tercatat melonjak 93 poin atau sekitar 0,54%, menembus level Rp17.012 per dolar AS. Penguatan ini didorong kuat oleh sentimen positif dari perkembangan geopolitik global, khususnya kabar mengenai gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.
Pengamat Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, menyoroti bahwa dorongan utama datang dari keputusan Presiden Donald Trump yang menyetujui penangguhan aksi militer terhadap Iran selama dua minggu. Trump, melalui unggahan di media sosial, menyatakan bahwa AS telah mencapai tujuan militer intinya. Pengumuman penting ini disampaikan kurang dari dua jam sebelum batas waktu krusial pukul 20.00 ET, yang sebelumnya dipantau ketat oleh investor sebagai pemicu potensial eskalasi konflik yang lebih besar. Sebelumnya, Trump bahkan sempat melontarkan peringatan keras bahwa "seluruh peradaban akan mati malam ini" jika Iran gagal mematuhi kesepakatan.
Gencatan senjata, yang berhasil dimediasi oleh Pakistan setelah upaya diplomatik intensif di menit-menit terakhir, sangat bergantung pada jaminan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz secara aman. Selat ini merupakan jalur vital yang mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak global. Iran sendiri telah mengisyaratkan kesediaan bersyarat untuk meredakan ketegangan, menyatakan bahwa jalur aman melalui Selat akan dimungkinkan selama periode gencatan senjata, asalkan permusuhan dihentikan dan kapal-kapal berkoordinasi dengan otoritas Iran.

Related Post
Selain dinamika geopolitik, para pelaku pasar juga tengah menantikan rilis laporan indeks harga konsumen (CPI) AS untuk bulan Maret yang dijadwalkan pada hari Jumat. Data ini diharapkan memberikan indikasi awal yang jelas mengenai dampak lonjakan harga energi baru-baru ini. Ekonom memprediksi inflasi inti akan meningkat secara bulanan, terutama didorong oleh biaya bahan bakar yang lebih tinggi, yang berpotensi mempersulit prospek kebijakan moneter Federal Reserve. Dari sisi domestik, pasar merespons positif terhadap realisasi pendapatan negara hingga 31 Maret 2026 yang mencapai Rp574,9 triliun, menunjukkan peningkatan 10,5 persen secara tahunan dan setara dengan 18,2 persen dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.









Tinggalkan komentar