pengunjuk rasa
International News

Para Demonstran Hongkong Demo yang Berujung Bentrok di Mall

Pada hari Minggu (14/7), sebanyak 10.000 aktivis Hongkong terlibat bentrok kembali dengan aparat kepolisian saat melakukan unjuk rasa. Insiden tersebut terjadi di dalam pusat peerbelanjaan atau mall yang berada di wilayah perbatasan antara Hongkong dengan China.

Aparat kepolisian satuan anti huru-hara telah dikerahkan untuk menghalau para demonstran yang melakukan unjuk rasa sampai masuk ke dalam Mall Sha Tin yang berdekatan dengan pelabuhan setempat. Kejadian itu terjadi pada saat malam hari.

Para pengunjuk rasa sejak sore hari telah melakukan pemblokiran jalan dan perempatan di kawasan tersebut dengan cara membentuk barikade yang terbuat dari pagar besi dan selama beberapa jam berhadap-hadapan dengan pihak kepolisian. Kemudian para pengunjuk rasa didesak pihak kepolisian untuk segera pergi.

Pihak kepolisian mengatakan bahwa mereka terpaksa bertindak keras lantaran para demonstran diserang dengan menggunakan ketapel yang ditembakan dari arah atas mall yang penuh dengan gerai barang-barang mahal. Akhirnya bentrokan tersebut tak terelakan.

Sejumlah pengunjuk rasa ditangkap. Tak sedikit pula aparat kepolisian yang terluka. Bentrokan selesai ketika massa demonstran pergi sekitar pukul 22.00 waktu setempat. Sudah sebulan lebih Hong Kong bergejolak. Tuntutan para pengunjuk rasa kini juga melebar, dari semula hanya menuntut pembatalan pembahasan Rancangan Undang-Undang Ekstradisi.

Para aktivis saat ini mendesak reformasi pemerintah dan mempertahankan kebebasan berpendapat di Hongkong. Mereka menuntut agar RUU Ekstradisi dibatalkan seluruhnya, melakukan penyelidikan secara independen terkait tudingan kekerasan yang dilakukan oleh pihak kepolisian, memberikan pengampunan terhadap para pengunjuk rasa yang tertangkap dan menuntut agar pemimpin Hongkong, Carrie Lam mundur dari jabatannya.

Dalam perjanjian penyerahan kedaulatan dari Inggris pada 1997, China berjanji untuk membiarkan sistem pengadilan dan kebebasan berpendapat di Hong Kong. Namun, para pegiat setempat menyatakan selama 22 tahun ini ada kecenderungan China ingin semakin menancapkan pengaruh dan tidak menghormati perjanjian yang mereka buat sebelumnya.

Related posts

Presiden Brazil di Nyatakan Positif Virus Corona

Melda Ridayana

Pilot Jet Tempur Jatuh di Laut Utara Inggris yang Ditemukan Tewas

Rizki Amrulah

Restoran Pizza Hut di Amerika Terancam Bangkrut

Melda Ridayana

26 Orang Tewas Dalam Serangan di Hotel Somalia

Melda Ridayana

2 Pria Melakukan Penjarahan Rumah Pada Saat Kebakaran di Oregon

Melda Ridayana

Tersangka Narkoba Asal Amerika Serikat Kabur dan Tembak Kepala Sendiri

Rizki Amrulah

Leave a Comment