marinir as
International News

Presiden Sri Lanka Tolak AS Untuk Dirikan Pangkalan Militer

Maithripala Sirisena, Presiden Sri Lanka telah menolak rancangan perjanjian kerja sama militer dengan Amerika Serikat (AS). Alasan Sirisena menolak lantaran ia menganggap bahwa kedaulatan negaranya akan terganggu, namun ada dugaan lain terkait persaingan politiknya dengan Ranil Wickremesinghe, Perdana Menteri (PM) yang dinilai pro Barat.

“Saya tak akan mengizinkan perjanjian apapun yang memiliki potensi untuk merongrong kedaulatan dan kemerdekaan kita. Beberapa perjanjian yang tengah dibicarakan kembali memiliki dampak yang tak baik terhadap negara kita,” ujar Sirisena dalam pernyataannya, seperti yang dilansir dari AFP, pada hari Senin (8/7).

Presiden Sri Lanka tersebut telah menentang Perjanjian Pnemepatan Paukan (SOFA) yang sempat ditandatangani oleh PM itu. Dalam perjanjian itu, pemerintah Sri Lanka akan memberikan izin kepada pasukan AS dan kontraktornya untuk mengakses pelabuhan di Sri Lanka.

“Saya telah menolak SOFA yang bisa saja untuk mengkhianati negara kita. Sejumlah negara ingin menjadikan Sri Lanka sebagai pangkalan militer mereka. Saya tak ingin mereka datang ke sini dan merusak kedaulatan kita,” tegas Sirisena.

AS menawarkan kucuran dana bantuannya pada tahun lalu kepada Sri Lanka sebesar US$ 39 juta atau setara dengan Rp 549,7 miliar dalam kerja sama keamanan maritim,. Hal tersbut diduga lantaran hubungan antara Presiden Sri lanka dan China semakin akrab.

Sehingga pemerintah AS semakin gencar untuk merayu Sri Lanka agar menghambat pengaruh China. Lantaran pemerintah China telah mengucurkan uang kepada Sri Lanka untuk mebangun beberapa proyek infrastruktur dari pelabuhan hingga gedung.

China menilai bahwa Sri lanka merupakan salah satu wilayah yang penting dalam menunjang program Jalan dan Sabuk Ekonomi. Proyek China itu bertujuan untuk memperluas pengaruhnya dari kawasan Afrika hingga Pasifik.

Di tahun 2017 lalu, Sri Lanka telah melakuka kesepakatan untuk menyewakan Hambantota, salah satu pelabuhan besar mereka untuk dikelola oleh China. Sebab mereka tak mampu membayar pinjaman negaranya yang mencapai US$ 1,4 miliar atau setara dengan Rp 19, triliun.

Sementara itu, AS telah menghentikan penjualan senjatanya kepada Sri Lanka ketika AS masih dalam konflik dengan pemberontak Macan Tamil dan berakhir pada tahun 2009 silam. Negara lainnya juga telah menyatakan bahwa Mahinda Rajapakse, presiden Sri Lanka sebelumnya telah melakukan pelanggaran HAM selama terjadinya konflik tersebut.

 

Related posts

Dapat Kritikan Netizen, Penjual Cendol Durian Ini Justru Untung Banyak

Rizki Amrulah

Tersangka Narkoba Asal Amerika Serikat Kabur dan Tembak Kepala Sendiri

Rizki Amrulah

Yuan Tiongkok jatuh ke level terlemah terhadap dolar sejak 2010

Rizki Amrulah

Satu orang tewas setelah gempa berkekuatan 5,9 mengguncang Taiwan

Rizki Amrulah

Seorang Wanita Muda Meninggal Akibat Jatuh Dari Roller Coaster

Melda Ridayana

Jepang Akan Menggunakan Drone Untuk Perdagangan

Rizki Amrulah

Leave a Comment